Saturday, September 1, 2012

Shalawat Ruuh Nabi (s)

Shalawat Ruuh Nabi (s)

(dibaca berulang-ulang sebelum tidur, sampai tertidur)









Allahumma shalli `ala ruuhi Sayyidina Muhammadin fil-arwaahi wa `ala jasadihi fil-ajsaadi wa `ala qabrihi fil-qubuuri wa `ala aalihi wa shahbihi wa sallim.

Artinya:
"Ya Allah, limpahkanlah shalawat kepada ruh Nabi Muhammad (s) di antara semua ruh, kepada jasadnya di antara semua jasad, dan kepada kuburnya di antara semua kubur dan limpahkanlah keselamatan kepada keluarga dan sahabatnya."


Imam Sya’arani (r) meriwayatkan bahwa Nabi (s) bersabda, “Barang siapa yang bershalawat dengan cara seperti ini akan bertemu denganku di dalam mimpi, dan barang siapa yang bertemu dengan di dalam mimpi, ia akan bertemu denganku di Yawmil Hisab, dan barang siapa yang bertemu denganku di Yawmil Hisab, aku akan memberi syafaat padanya, dan barang siapa yang mendapatkan syafaatku, ia akan minum dari telagaku, Hawdh al-Kawtsar di Surga, dan barang siapa yang meminum dari al-Kawtsar ia akan terlindung dari api neraka.

Imam Sya’arani (r) berkata, “Aku harus membacanya,” dan aku membacanya sebelum tidur dan terus membacanya sampai aku tertidur. Aku melihat bulan dan melihat wajah Nabi (s) yang mulia, dan aku berbicara dengan beliau. Kemudian ghaba fi’l-qamar, aku merasa beliau berada di bulan hingga beliau menghilang. Aku berdoa kepada Allah (swt) demi shalawat ini, agar Dia memberikan seluruh nikmat yang Ia berikan, bukannya nikmat yang biasa, tetapi nikmat yang Ia berikan kepada Sang Kekasih-Nya, Sayyidina Muhammad (s), yang Ia janjikan kepada setiap mu’min, dan aku merasa bahwa aku telah mendapatkannya. (Afdhal ash-Shalawat, halaman 58).

Obat untuk Kesedihan

Obat untuk Kesedihan

Mawlana Syekh Muhammad Hisyam Kabbani
Singapura, 3 Januari 2012


...Allah (swt) berfirman kepada Nabi (s) di dalam Surat asy-Syarh (Surat Alam Nashrah), “Mengapa engkau bersedih,  yaa Muhammad?”  Itu artinya, “Wahai manusia, mengapa engkau bersedih?” Allah (swt) berfirman kepada Nabi (s), “Aku tidak ingin melihatmu sedih, sehingga Aku lapangkan dadamu agar engkau bahagia; Aku memberikan sesuatu untuk membuatmu dan seluruh umatmu sangat bahagia!” Itu artinya, “Bukankah Aku telah melapangkan dadamu agar engkau menjadi bahagia?”  Berbahagialah!  Jangan terlalu banyak berpikir, karena berpikir terlalu banyak akan membuat kalian sedih.  Orang yang terlalu banyak memikirkan suatu masalah akan menjadi depresi, yang kemudian apakah ia akan meledak marah atau ia akan pergi ke sudut sehingga tak ada yang dapat berbicara dengan mereka.  Jangan seperti itu!  Nikmatilah rahmat Allah, nikmatilah rahmat-Nya.

Allah (swt) berfirman di dalam kitab suci al-Qur’an:

قُلْ بِفَضْلِ اللّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَلِكَ فَلْيَفْرَحُواْ هُوَ خَيْرٌ مِّمَّا يَجْمَعُونَ

Qul bifadhlillahi wa bi-rahmatihi fa-bidzaalika fa ‘l-yafrahuu huwa khayrum mimmaa yajma`uun.

Katakanlah, “Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah mereka bergembira, karunia Allah dan rahmat-Nya itu lebih baik dari pada apa yang mereka kumpulkan.” (Yunus, 10:58)

Dia berfirman, “Engkau harus bergembira dengan karunia dan rahmat Allah!”  Awliyaa dan `ulama mengatakan bahwa yang dimaksud rahmat tersebut adalah Muhammad (s). Jadi kapanpun kalian merasa sedih dalam kehidupan kalian, bacalah tujuh kali Surat Alam Nashrah (Surat asy-Syarh) pada air dan minumlah air itu setiap hari; depresi itu akan pergi dan kalian akan terobati dari kesedihan itu.  Setetes air mata seorang Muslim untuk Allah (swt) dan Nabi-Nya (s), dan jika kalian zoom in (memperbesar) dan melihatnya lebih dalam lagi, khususnya tangisan seorang Mukmin, itu lebih berharga dari pada dunia dan segala isinya, karena Allah tidak suka melihat hamba-hamba-Nya yang mencintai-Nya dan mencintai Nabi-Nya menjadi sedih.

Sayyidina Ibrahiim (a) dilemparkan ke dalam api oleh Namrud dan beliau tidak bersedih.  Sayyidina Jibriil (a) bertanya kepadanya, “Apakah engkau memerlukan pertolongan?” dan Sayyidina Ibrahiim berkata, “Aku tidak memerlukan pertolonganmu. Yang mengirimkan aku ke sini tahu apa yang sedang terjadi.”  Sehingga Allah membuat api itu “bardan wa salaaman,” sejuk dan menyelamatkan bagi Ibrahiim, tetapi bukannya dingin hingga ke tulang atau dingin yang tak tertahankan, karena Allah (swt) tidak suka melihat hati orang-orang beriman, para pecinta-Nya, yang melakukan salat, puasa, memberi sedekah dan berzikir, menjadi sedih di dalam hidupnya.

Sumber





Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...