Showing posts with label sunnah. Show all posts
Showing posts with label sunnah. Show all posts

Thursday, September 26, 2013

Pentingnya Batu Permata

Pentingnya Batu Permata



Pertanyaan:
Apakah Syekh kita pernah menunjukkan tentang pentingnya memakai cincin dengan batu permata?

Jawaban:
Syekh Hisyam Kabbani berkata di dalam shuhbatnya tanggal 29 November 2009:
… ini adalah pesan penting bagi semua orang yang mendengarkan, untuk memahami makna dari level kewalian yang berbeda-beda dan juga para perwakilannya, untuk menghargai apa yang kita miliki, karena kita tidak menghargai.  Kita mempunyai berlian, tetapi kita mencari zircon (batu tiruan berlian).  Zircon mempunyai nilai dua karat, yaitu sepuluh dolar.  Tetapi berlian dengan ukuran yang sama bernilai 200 juta dolar, ukurannya sama dan potongannya juga sama.  Berlian mempunyai sebuah rahasia, sedangkan zircon tidak mempunyai rahasia.  Jika kalian meletakkan zircon pada mesin yang menghitung gelombang elektromagnetiknya, kalian akan melihat sinyal yang sangat lemah, tetapi berlian menunjukkan sinyal gelombang elektromagnetik yang kuat.  Hal itu memperlihatkan bahwa ia membawa banyak rahasia dan energi yang besar, dan itulah sebabnya mengapa Nabi (s) menganjurkan bila memakai cincin Sunnah, pastikan bahwa batu cincin itu menyentuh kulit, khususnya batu `aqiiq,akik (carnelian) atau ferouze, pirus (turquoise), karena ada energi rahasia yang melewati batu akik itu dan memperbaiki sistem dan kulit kalian.

Taher Siddiqui

Sunday, August 25, 2013

SHALAT SUNAH AL- ‘ UTAQA Fi Syawal (Khusus dilakukan di bulan Syawal)

SHALAT SUNAH AL- ‘ UTAQA Fi Syawal (Khusus dilakukan di bulan Syawal)
Sultan Awliya Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani qs

 Sultan Awliya Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani qs

Terdapat penjelasan dari Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani, didalam kitab beliau “ Al-Ghunyah “ dengan sanadnya yang sampai kepada Anas R.A .Dia Berkata ,” Rasulullah SAW bersabda,” Barang siapa mengerjakan shalat didalam bulan syawal sebanyak delapan rakaat diwaktu siang ataupun malam.

Pada setiap rakaatnya dia membaca ( setiap dua rakaat salam )

Surat Al-Fatehah 1x
Surah Al-Ikhlas 15 x salam.
Setelah selesai delapan rakaat
Bertasbih 70 x
Bershalawat atas Nabi SAW 70 x
Demi yang mengutus aku dengan Al-Haq sebagai Nabi, siapapun dia selaku seorang hamba dari hamba-hamba Allah Apabila dia mengerjakan sholat ini maka Allah tumbuhkan dihatinya Sumber Al-Hikmah ( Ilmu Pengetahuan ) dan Allah gerakkan lidahnya untuk membicarakannya dan Allah perlihatkan kepadanya penyakit dunia dan obatnya.
Demi yang telah mengutus aku dengan Al-Haq sebagai Nabi, barang siapa mengerjakan sholat ini seperti yang telah aku lukiskan , tidaklah dia mengangkat kepalanya dari sujutnya yang terakhir dari shalat itu melainkan Allah Ta’ala telah mengampuninya dan jika dia mati maka perjalanan pergi ketempat tujuannya dan jika dia adalah seorang yang terbeban hutang maka Allah Ta’ala lepaskan dia dari hutangnya, dan jika dia seorang yang mempunyai hajat maka Allah Ta ‘ala kabulkan hajatnya.
Demi yang telah mengutus aku dengan Al-Haq sebagai Nabi, jika seorang hamba mengerjakan shalat ini maka Allah Ta ‘ala berikan kepadanya darisetiap huruf dan setiap ayat yang dibacanya sebuah Makhrafah disurga. ( Maka ada seorang sahabat yang bertanya ,” Apakah Makhrafah itu , wahai Rasulullah ?” di jawab beliau “ Dia adalah kebun-kebun disurga ,yang jika seseorang berjalan dibawah bayangan sebuah pohon dari pohon-pohonnya dengan menunggang kuda selama seratus tahun maka dia masih belum dapat melewatinya.”

Friday, December 14, 2012

Sunnah Mencium Kedua ibu Jari saat Adzan berkumandang

Sunnah Mencium Kedua ibu Jari saat Adzan





Sultan mencium kedua ibu jarinya dan mengusapnya ke mata, pada saat dikumandangkan "Asyhadu anna Muhammadar Rasuulullah (s) dalam adzan ( jumat, 14 des 2012, lefke cyprus)




HADIST TENTANG MENCIUM IBU JARI & MENGUSAPKANNYA KEMATA

Sebuah Hadits dalam Daylami yang diriwayatkan oleh Hazrat Abu Bakar ash-Shiddiq (ra) menyatakan bahwa Rasulullah Muhammad (saw) bersabda,

“Ketika Muadzin mengucapkan, Muhammadur Rasulullah, jika seseorang mencium kedua ibu jarinya dan mengusapkan kematanya dan dia mengucapkan Ash-hadu anna Muhammadan abduhu wa Rasuluh, radhi-tu bil-laahi Rabban wa bil-Islami diin-an wa bi Muhammadin sall-Allahu alaihi wa sallama Nabiyyan, perantaraanku menjadi halal baginya.”

Hadits syarif lainnya menyatakan, “Aku akan mencari dan akan menemukan orang yang meletakkan kedua ibu jari ke matanya ketika mendengar namaku disebut dalam adzan dan aku akan membawanya ke surga di Hari Pembalasan.”

Seorang ulama dari madzhab Hanafi, Syaikh al-Tahtawi yang menulis buku Mara al-Falah di bawah pengawasan al-Quhistani, dalam catatannya mengatakan,

“Adalah mustahab untuk meletakkan kedua ibu jari ke matanya dan berdo’a, Qurrat `aynayya bika yaa Rasul-Allah! Allaahumma matti’ni bi-s-sami wa l-bashri. Ketika Muadzin mengucapkan nama Rasulullah (saw) untuk yang kedua kalinya dalam adzan karena Rasulullah (saw) akan membawa orang yang melakukannya ke dalam surga.”


(Mawlana Syaikh Hisyam Kabbani qs)

 bahkan ahlus sunah wal jamaah banyak yang meninggalkan sunah ini yaitu mencium kedua ibu jari yg ujungnya bersentuhan dengan ujung telunjuk kemudian mengusapkan ke kelopak mata dan berkata, "Qurrat `aynayya bika yaa Rasul-Allah! Allaahumma matti’ni bi-s-sami wa l-bashri.






 


Tuesday, November 20, 2012

Tanya Jawab Apakah Mendoakan Orang Lain Diterima? Apa Hukumnya?

Tanya Jawab Apakah Mendoakan Orang Lain Diterima? Apa Hukumnya?

Bagaimana secara syari'atnya kirim atau hadiahkan doa untuk orang-orang yang sudah meninggal? Halal kah?

Jawab :

Ketahuilah bahwa semua Nabi Allah gemar kirim hadiah doa untuk orang-orang yang telah wafat. Di Al-Qur'an, Allah ta'ala minta umat-Nya untuk kirim atau hadiahkan doa untuk semua orang-orang yang beriman, baik yang masih hidup apalagi yang sudah wafat. Antara lain diperintahkan dalam:

1. QS. Muhammad, ayat 19 : "Dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mu'min, laki-laki dan perempuan."

2. QS. Nuuh, ayat 28 : "Ya Tuhanku ampunilah aku. Ibu bapakku, orang yang masuk ke rumahku dengan beriman, serta semua orang yang beriman laki-laki dan perempuan. Dan janganlah Engkau tambahkan bagi orang-orang yang zhalim itu selain kebinasaan."

3. QS. Ibraahiim, ayat 40-41 : "Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat, ya Tuhan kami, perkenankanlah do'aku. Ya Tuhan kami, ampunilah aku dan kedua ibu bapakku dan sekalian orang-orang mu'min pada hari terjadinya hisab."

4. QS. Al-Hasyr, ayat 10 : "Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan anshar), mereka berdo'a, ya Tuhan kami, Ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman. Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang."


Kemudian dalam hadits-hadits shahih diriwayatkan:

Dari Abu Hurayrah ra, "Aku mendengar Rosulullah saw bersabda, Jika kamu semua menshalati mayit, maka berdo'alah dengan ikhlas untuknya."
(Sunan At Tirmidzi)

Dari Auf bin Malik ra, "Rasulullah saw. menshalatkan sebuah jenazah, maka saya hafal doa beliau, beliau berdoa: "Ya Allah, ampunilah dia, kasih sayangilah dia, selamatkanlah dia, maafkanlah dia, muliakanlah tempat tinggalnya, dan lapangkanlah kuburannya. Mandikanlah ia dengan air, es dan embun. Bersihkanlah ia dari kesalahan-kesalahan sebagaimana Engkau membersihkan kain putih dari kotoran. Gantikanlah rumah untuknya yang lebih baik dari rumahnya (di dunia), keluarga yang lebih baik dari keluarganya (di dunia) dan pasangan hidup yang lebih baik dari pasangan hidupnya (di dunia). Masukkanlah ia ke dalam surga, selamatkanlah ia dari azab kubur dan azab neraka." (HR Muslim no. 963, Ahmad no. 23975, An-Nasai no. 1983, Ibnu Abi Syaibah no. 11353, Ibnu Hibban no. 3075, dan Al-Baihaqi no. 6965)

Sesungguhnya A'isyah ra bertanya kepada Rasulullah saw, apa yang harus dibaca ketika kami memohon ampun bagi ahli kubur? Rasulullah saw menjawab, "Ucapkanlah, Salam sejahtera atas engkau semua wahai ahli kubur dari golongan mukminin dan muslimin, semoga Allah Swt melimpahkan Rahmat-Nya bagi orang-orang yang mendahului serta orang-orang yang datang kemudian dari kami. Dan I'nsya Allah kami akan menyusul kalian." (HR Muslim)

Dari U'tsman bin A'ffan ra, "Nabi Muhammad saw jika selesai menguburkan jenazah, beliau berdiri di dekat kubur lalu bersabda, hendaklah kamu sekalian memintakan (kirim hadiah doa) ampunan bagi saudaramu (yang meninggal ini) karena saat ini dia sedang ditanya oleh malaikat." (Sunan Abu Dawud)

Dari A'isyah ra, "Seseorang laki-laki bertanya kepada Nabi Muhammad saw, Ibu saya meninggal dunia secara mendadak dan tidak sempat berwasiat. Saya menduga seandainya dia dapat berwasiat, tentu ia akan bersedekah. Apakah ia akan mendapat pahala jika saya bersedekah atas namanya? Nabi Muhammad saw menjawab, "Ya". (HR Muslim)

Dari Ibnu A'bbas ra, "Suatu hari Nabi saw berjalan melewati dua pemakaman. Kemudian beliau bersabda, kedua orang yang berada dalam kuburan ini sekarang sedang disiksa. Namun keduanya disiksa bukan karena dosa besar. Yang satu disiksa karena ia kencing dan tidak menutup auratnya. Dan yang lain disiksa karena suka mengadu domba. Lalu Nabi saw mengambil pelapah kurma dan membelahnya menjadi dua, kemudian menancapkanya di atas kubur masing-masing. Para sahabat bertanya, mengapa engkau melakukan hal tersebut? Nabi saw menjawab, "Semoga keduanya mendapatkan keringanan siksa selama pelepah kurma ini belum kering." (HR Bukhari)

Diriwayatkan dari Abu Hurayrah ra, Rasulullah saw berkata, "Barang siapa memasuki pemakaman lalu membaca sura Al-Fatihah, Al-Ikhlas dan At-Takatsur, lalu berdo'a, "Aku hadiahkan bacaan yang aku baca dari firman-Mu untuk semua Ahli Qubur dari kalangan mukmiin dan mukminat, maka semua ahli qubur itu akan memberikan syafa'at (pertolongan) kepada orang yang membaca surat tersebut."

Jika ada sahabat di kalangan Anshar meninggal dunia, mereka berkumpul di depan kuburnya sambil membaca Al Qur'an. Berkata Nabi saw, "Apabila seorang manusia meninggal maka putuslah amalnya, kecuali tiga hal: Sedekah jariyah, anak yang shalih yang mendo'akannya atau ilmu yang bermanfaat sesudahnya."
(HR Muslim, Abu Dawud, At-Tirmidzi, Nasa'i dan Ahmad)

Dari Ma'qil bin Yasar ra., Rasulullah saw berkata, "Bacakanlah surat Yaasiin atas orang yang meninggal di antara kalian."
(HR Abu Daud, An-Nasaa'i dan dishahihkan oleh Ibnu Hibban)

Dari Ma'qil bin Yasar ra., Rasulullah saw berkata, "Surat Yasin adalah intisari Al Qur'an. Tidaklah seseorang membacanya dengan mengharap rahmat Allah Swt kecuali Allah Swt akan mengampuni dosa-dosanya. Maka bacalah surat Yasin atas orang-orang yang telah meninggal diantara kamu sekalian." (Musnad Ahmad bin Hanbal)

Sabda Rasulullah saw, "Jantungnya Al-Qur'an adalah surat Yaasiin. Tidak seorang yang mencintai Allah dan negeri akhirat membacanya kecuali dosa-dosanya diampuni. Bacakanlah (Yaasiin) atas orang-orang mati di antara kalian."(Ibnu Majah, Ibnu Hibban dan Al-Hakim)

Adalah Ibnu U'mar ra. gemar membacakan bagian awal dan akhir surat Al-Baqarah di atas kubur sesuah mayat dikuburkan.
(HR. Al-Baihaqi dengan sanad yang hasan)

Akhirnya tapi bukan yang terakhir, Imam Syafi'i pernah mewasiatkan: "Disunnahkan membaca sebagian ayat Al-Qur'an di dekat mayit, dan lebih baik lagi jika mereka (pelayat) membaca Al-Qur'an sampai khatam." (Dalil Al-Falihin Juz VI hal 103)

10 Muharram - Ashura Opening of Heavenly Lights


10 Muharram - Ashura Opening of Heavenly Lights

This Thursday and Friday : 22-23 November 2012

Adab Hari ‘Asyuuraa [10 Muharram]
Mawlana Syaikh ‘Adnan Qabbani di Futuhaatul Haqqaniyyah

1. Salat 4 raka’at, membaca di tiap raka’at Surat Al-Faatihah, dilanjutkan surat Al-Ikhlas 11x. Menurut suatu hadits Nabi sallAllahu ‘alayhi wa aalihi wasallam, orang yang melakukannya akan diampuni Allah SWT dosanya selama 50 tahun, dan dibuatkan baginya minbar terbuat dari cahaya
2.   Mandi di hari itu
3.   Berpuasa di hari itu
4.   Doa’ di Hari ‘Asyuura:
·        
70x Hasbunallahu wa ni’mal wakiil ni’mal mawlaa wa ni’man Nashiir ·        
Membaca doa di bawah sebanyak 7x: “Subĥaanallaahi mil-al miizaan wa muntahal ‘ilm wa mablagha r-ridhaa wa zinatal ‘arsy laa malja-a wa laa manjan minAllahi illaa ilayhi, Subĥaanallahi ‘adada s-syaf’i wal ‘arsy wa ‘adada kalimaati rabbina t-taammaati kullihaa. As-aluka s-salaamata biraĥmatika Yaa Arĥamar Raaĥimiin wa laa ĥawla wa laa quwwata illaa billahil ‘aliyyil ‘azhiim wa huwa ĥasbiy wa ni’mal wakiil ni’mal mawlaa wa ni’man nashiir wa shollallaahu ‘alaa sayyidinaa Muhammadin wa ‘alaa aalihi wa shaĥbihii ajma’iin”
5.       Satu jam sebelum adzaan Maghrib memasuki  hari ‘Asyuuraa (10 Muharram) duduk menghadap Qiblah, dan memulai menyempurnakan Adab Tariqah Harian, kemudian dilanjutkan dengan TAWASSUL dengan SAYYIDINA Al-HUSAYN dan SYUHADA’ KARBALAA, karena pada hari tersebut, telah syahid Sayyidi Syabaabi Ahlil Jannah [Penghulu Pemuda Ahli Surga] Imaamana wa Mawlaanaa cucu dari Sayyidil ‘Aalamayn Sayyidii Abii ‘Abdullah Al-Husayn beserta mereka yang menyertai beliau dari kalangan Sahabat maupun Tabi’iin, ridhwanullahi ‘alayhim ajma’iin.
6.       Membaca Surat Al-Ikhlas 1000x. Menurut suatu hadits, siapa yang melakukannya, Allah akan memandangnya dengan pandangan Rahmat-Nya, dan akan ditulis termasuk dalam kaum shiddiqiin.
7.       Setelah berbuka puasa ‘Asyura’, menitipkan puasa dan awraad yang telah kita baca kepada Nabi Muhammad sallAllahu ‘alayhi wasallam dalam penjagaan/khazanah beliau.

Apa yang terjadi di hari ‘Asyuraa
1.      Dipilihnya Adam ‘alayhissalaam
2.      Diangkatnya Idriis ‘alayhissalaam
3.      Tertambatnya perahu Nuuh ‘alayhissalaam di bukit Juudiy
4.      Allah SWT menjadikan Ibrahiim sebagai Khaliil
5.      Diampuninya Daawuud ‘alayhissalaam
6.      Dikembalikannya kerajaan Sulayman ‘alayhissalam kepadanya
7.      Disembuhkannya Ayyub ‘alayhissalam dari penyakitnya
8.      Dikeluarkannya Yuunus ‘alayhissalam dari perut ikan setelah 40 hari di dalamnya
9.      Dikumpulkannya Ya’qub dengan Yuusuf  ‘alayhimassalaam setelah 40 tahun lamanya berpisah
10.    Dilahirkannya Sayyidina ‘Iisaa ‘alayhissalaam dan diangkatnya beliau ke langit
11.    Menikahnya Nabi Muhammad sallAllahu ‘alayhi wasallam dengan Sayyidatinaa Khadiijah radiyallahu ‘anhaa
12.    Allah SWT menciptakan lelangit dan bumi, qalam, dan Adam, serta Ĥawwaa’
13.    Berbolak-baliknya Ashabul Kahfi dalam tidurnya dari satu sisi ke sisi yang lain [satu hari yang terekstensi menjadi 300 tahun]

Sumber:  Al-futuuĥaatul Ĥaqqaaniyyah  susunan Mawlana Syaikh ‘Adnan Qabbaniy, hlm. 154-155


Muharram Adab


Four [4] sunnah rak'at on the day of 'Ashura, where after the Fatihah in each rak'ah recites "Qul Huwa Allahu Ahad" eleven [11] times,

Allah will forgive his sins of fifty years, and will build for him a pulpit from light.


Takes the sunnah shower on 'Ashura he will not suffer sickness in that year except the illness of death, and

Wears the Kuhl on his eyes on 'Ashura he will not suffer sickness on that year.


Du'a of 'Ashura:

Recite "Hasbun Allahu wa ni'mal wakil, ni'mal Maula wa ni'man Nasir" [70 x],

And recite: "Hasbun Allahu mil-al Mizan wa muntaha- 'ilma, wa mablaghal rida, wa zinatul 'arsh, la malja-a wa la manja min Allahi illa ilaihi. Subhan Allahi 'adada-shaf`i wal 'arshi, wa 'adada kalimati Rabbina- taamma! ti kulliha. As-aluka-s Salamata bi Rahmatika Ya Arham Ar-Rahimin, wa la hawla wa la quwwata illa billahil 'Aliyyil 'Azhim. Wa huwa hasbii wa ni'mal wakil, ni'mal Mawla wa ni'man Nasir. Wa Sallallahu 'ala Sayyidina Muhammadin wa 'ala alihi wa sahbihi ajma'in." [7 x].


About an hour before the Adhan for Maghrib towards 'Ashura, sit facing the Qiblah and finish the daily Adab of Tariqah. And then make Tawassul with Sayyidina al-Husayn and the martyrs of Karbala, where on that day they died Shahid with Sayyidina al-Husayn and those who were with him, may Allah's favours be upon them. After breaking your fast dedicate the blessings and rewards of your fast and daily Awrad upon the Prophet s.a.w. for the oceans secrets that lie open on the 14th of Muharram.


Narrated from Ibn al-'Abbas r.a. that the Prophet s.a.w. said, "Whoever fasts the last day of Dhul Hijjah and the first day of Muharram, he completes a whole year's worth of fasting in that previous year, and Allah gives him penance for fifty [50] years."


Narrated from Anas r.a. that the Prophet s.a.w. said, "Whoever fasts the first Friday of Muharram Allah will forgive his preceding sins, and whoever fasts three days of Muharram - Thursday, Friday, and Saturday, Allah will write for him worship and prayers for nine hundred [900] years."


Narrated from 'A`ishah Umm al-Mu'minin r.a. that the Prophet s! .a.w. said, "Whoever fasts the first ten days up till 'Ashura, he will inherit the Paradise al-Firdaus."


Fasting of 'Ashura is Sunnah Mu`akkadah, that which is highly desired. When the Prophet s.a.w. saw the Jewish of Madinah fasting on that day, he asked them for what it was. They told him it was the day Musa a.s. led the Bani Isra`il from Pharaoh. The Prophet s.a.w. said, "I have more love with Musa than you Jewish." So he fasted that day and ordered for its observance. This was part of a longer narration from 'A`ishah r.a.


The Prophet said, "Whoever fasts the 'Ashura (10th Muharram), Allah will write for him a thousand [1000] wishes and a thousand years of age, and will grant him the reward of a thousand martyrs, and will write for him the reward of Isma`il a.s., and writes for him seventy [70] palaces in paradise, and makes his flesh forbidden from the hellfire."


In another Hadith the Prophet s.a.w. said, "Whoever fasts the 'Ashura, he will be granted the reward of a thousand angels. And whoever recites "Qul Huwa Allahu Ahad" a thousand [1000] times on the day of 'Ashura, Allah will glance at him with the Eyes of Mercy, and will write him from amongst the Siddiqqin [The Truthful]."


In another Hadith the Prophet s.a.w. said, fasting either the day before 'Ashura or the day after it as well."


13th Evening of Muharram ( 14 Muharram Maulid Shah Bahaudin Naqshband qs )


Monday Night is also a month of great importance to Naqshbandi. Our Master and Imam of the Tariqah Shah Naqshband q.s. was born on the 14th of this month. It is thus important and most desired that the Ahl of the Tariqah congregate on the eve of this holy day for Khatm and Dhikr, and read the Mawlid al-Nabi s.a.w. in dedication to Mawlana Shah Naqshband, and also reading excerpts from his saintly life.


It is a tradition and practice of Mawlana Sultan al-Awliya' Shaykh 'Abdullah al-Daghistani q.s. to make Qurban of two sheep on the day of 'Ashura and distribute the meat to the poor and needy to the members of the Tariqah. He also did this on the birthday of Shah Naqshband q.s.

13th Evening of Muharram


Monday Night Naqshbandi Sufi Meditation Center is also a month of great importance to Naqshbandi. Our Master and Imam of the Tariqah Shah Naqshband q.s. was born on the 14th of this month. It is thus important and most desired that the Ahl of the Tariqah congregate on the eve of this holy day for Khatm

and Dhikr, and read the Mawlid al-Nabi s.a.w. in dedication to Mawlana Shah Naqshband, and also reading excerpts from his saintly life.


It is a tradition and practice of Mawlana Sultan al-Awliya' Shaykh 'Abdullah al-Daghistani q.s. to make Qurban of two sheep on the day of 'Ashura and distribute the meat to the poor and needy to the members of the Tariqah. He also did this on the birthday of Shah Naqshband q.s.

Asma’u Syuhada’u Karbalaa’
A’uudzu billahi minasy syaithanirrajiim
Bismillahirrahmanirrahiim
Allahumma salli ‘alaa sayyidina Muhammadin wa ‘alaa aalihi wasahbihi ajma’iin
 
Yaa sayyidis saadaati wa nuural mawjuudaat!
Yaa man huwa l-malja-u liman massahu dhayyimun wa ghommun wa alam,
Yaa aqraba l-wasaaili ilAllahi ta’aalaa,
Wa yaa aqwal mustanadi,
Atawassalu ilaa janaabika l-a’zham bi haadzihis saadaati wa ahlillaahi wa ahli baytika l-kiraam,
Li-daf’i dhurrin laa yudfa’u illaa bi-waasithotika wa raf’i dhoyyimin laa yurfa’u illaa bi-dalaalatika,
Yaa sayyidii yaa Rasuulallaah wa bi-sayyidii:
 
1.       Ĥadhrati Sayyidi s-Syuhadaa’ Al-Ĥusayn radhiyAllahu ‘anhu
2.       Sa’iid ibn al-‘Aash
3.       Abuu Bakr ibn Muĥammad
4.       Thalĥah ibn ‘Abdullaah
5.       Ja’far ibn ‘Uqayl
6.       Manshuur ibn ad-Dhaĥĥaak
7.       Sadiid ibn Muzh’im
8.       Zaayid ibn ‘Aliyy
9.       Muroodas ibn al-‘Asytar
10.   Ma’zhum ibn Musallamah
11.  ‘Abdullah ibn Muĥammad al-Ĥanafiy
12.   Muslim ibn al-Ĥakam
13.   ‘Aamir ibn ‘Abdullah
14.   Abuu Manshuur Al-Haasyimiy
15.   Abuu Malhab al-Faarisiy
16.   ‘Abdurraĥmaan ibn Al-Waajiriy
17.   ‘Auf ibn ‘Abdullaah
18.   Isĥaq ibn ar-Raasyid
19.   Syaibaan ibn Jubayr
20.   Ibn Wahb
21.   ‘Abdullah ibn Sa’iid
22.   Abii Mulkiyyah
23.   Aswad ibn al-Aswad
24.   ‘Abdul Waarits
25.   Kariib Ĥushayn
26.   Yaĥyaa al-‘Iraaqiy
27.   Muĥammad ibn Muthrafiin
28.   ‘Abdul Wahhaab al-Kuufiy
29.   Dhariir ibn Dhiraar
30.   ‘Abdullah ibn Muĥammad
31.   Bakiir ibn ‘Abdullah
32.   Muĥammad ibn ‘Abdullah
33.   Shofwan al-Ĥaarits
34.   Nu’maan an-Nakh-‘iy
35.   Abuu Muslim al-‘Iraaqiy
36.   ‘Abdullah ibn Yuusuf
37.   ‘Abdullah ibn Islaam
38.   Naafi’ ibn Jubayr
39.   Abii Ĥubayb
40.   ‘Aqiil ibn Zayd
41.   Mukhtaar al-Akwa’
42.  Tsaabit ibn al-Mukhtaar al-Kuufiy
43.  Sulaymaan ibn Bilaal
44.  ‘Abdullah ibn ‘Awf
45.  Thaawuus al-Yamaniy
46.  Yaziid ibn Mahraan
47.  ‘Abdullah ibn Ka’b
48.  ‘Abdullah ibn Khuzaamah
49.  Yaziid ibn ‘Abdullaah
50.  ‘Aamir ibn Sa’d
51.  Tsawr ibn Zayd al-‘Iraaqiy
52.  Zakwaan as-Shaadiq
53.  ‘Aaqib ibn Thaawuus
54.  ‘Abdurraĥmaan ibn Az-har
55.  Yaziid ibn Zurayb
56.  Ibn Kaysaan
57.  ‘Abdul Kariim al-Kuufiy
58.  Abuu Burdah
59.  Muĥammad ibn al-Mutsannaa
60.  Abuu Daawuud al-Ishfahaaniy
61.  Abuu Zakariyyaa

Ridhwaanullaahi ta’aalaa ‘alayhim ajma’iin.

Catatan: transliterasi huruf Ĥ atau ĥ adalah untuk huruf ĥaa’ (antara jiim dan khoo’) pada aksara Hija’iyyah; sementara huruf H atau h biasa adalah untuk huruf haa’ (setelah huruf waw) pada aksara Hija’yyah.

Sumber: Al-futuuĥaatul Ĥaqqaaniyyah  susunan Mawlana Syaikh ‘Adnan Qabbaniy, hlm. 208-209

Saturday, October 27, 2012

Doa selama 10 hari pertama bulan Zulhijah

Doa selama 10 hari pertama bulan Zulhijah

Barangsiapa yang membaca doa berikut ini pada 10 hari pertama di Bulan Zulhijah, setiap hari 10 kali, maka Allah SWT akan mengampuni dosa-dosa yang telah lalu dan yang akan datang (ia terpelihara dari dosa).

Laa ilaaha illallaah `adadad-duhuur/Laa ilaaha illallaah `adada amwaajil buhuur/Laa ilaaha illallaah `adadan-nabaati wasy-syajar/Laa ilaaha illallaah `adadal qathri wal mathar/Laa ilaaha illallaah `adada lamhil `uyuun/Laa ilaaha illallaah khayrum mimmaa yajma`uun/Laa ilaaha illallaah min yawminaa haadzaa ilaa yawmi yunfakhu fish-shuur

La ilaaha illallah, sepanjang masa/ La ilaaha illallah, sebanyak bilangan riak dan gelombang alun 7 samudra sepanjang waktu/ La ilaaha illallah sebanyak bilangan benih dan pepohonan hingga Hari kiamat/ La ilaaha illallah sebanyak bilangan rintik dan derai hujan sepanjang waktu/ La ilaaha illallah sebanyak bilangan kejap mata semua mahluk yang pernah dan masih akan diciptakan/ La ilaaha illallah lebih dari kapasitas kuantum yang dapat dimengerti/ La ilaaha illallah sejak hari ini hingga tatkala sengkakala Israfil AS ditiup menutup kehidupan ini.

Allahumma farjakal qarib/Allahumma satrakal hashin/Allahumma a'wa-idakal hasanat/Allahumma 'atha-ukal hasanal jamil/Ya Qadimal ihsan ihsanakal qadim/Ya Da-imal ma'ruf ma'rufakaddaim/Fashallallahu' alaa Sayyidina Muhammadin wa'ala alihi washahbihi wasallim

Allahumma, Ya Allah sesungguhnya Kelapangan dari-Mu sudah amat dekat—perisai perlindungan-Mu pun sangat rapat bak benteng—uluran-Mu juga selalu mengesensikan kebagusan-kebagusan—Anugerah-Mu pun selalu cantik/indah/menyenangkan—wahai Dzat Yang sari dahulu selalu memperbuat kebaikan—abadikanlah Kebaikan-Mu padaku—wahai Dzat Yang Kebajikannya Lestari—lestarikan Kebajikan-Mu buatku berupa Selawat buat Junjunganku Nabi Muhammad SAW beserta para Sahabat dan Keluarga Beliau semuanya...

Allahumma bihaqqi sha-imi 'arafah la tahrimni tsawaba 'arafah

Allahumma Ya Allah, demi kebenaran Hari (puasa) Arafah jangan Kau haramkan pahala Arafah bagiku.

Doa ini disampaikan oleh Sh. Mustafa al-Haqqani

Tuesday, September 18, 2012

MENYIRAM AIR DAN KARANGAN BUNGA DI KUBURAN

MENYIRAM AIR DAN KARANGAN BUNGA DI KUBURAN

Banyak sekali ragam tradisi yang berhubungan dengan ziarah kubur. Mulai dari mengaji al-Qur’an, tahlil, yasinan hingga menyirami pusara dengan air. Tentang dasar hukum berbagai tradisi tersebut telah sering disebutkan dalam rubrik ubudiyah. Kali ini redaksi akan menerangkan dasar hukum menyiram kuburan dengan air dingin atupun air wewangian.Imam Nawawi al-Bantani dalam Nihayatuz Zain menerangkan bahwa hukum menyiram kuburan dengan air dingin adalah sunnah. Tindakan ini merupakan sebuah pengharapan –tafaul- agar kondisi mereka yang dalam kuburan tetap dingin.

وَيُنْدَبُ رَشُّ الْقَبْرِ بِمَاءٍ باَرِدٍ تَفاَؤُلاً بِبُرُوْدَةِ الْمَضْجِعِ وَلاَ بَأْسَ بِقَلِيْلٍ مِنْ مَّاءِ الْوَرْدِ ِلأَنَّ الْمَلاَ ئِكَةَ تُحِبُّ الرَّائِحَةَ الطِّيْبِ (نهاية الزين 154)

Disunnahkan untuk menyirami kuburan dengan air yang dingin. Perbuatan ini dilakukan sebagai pengharapan dengan dinginnya tempat kembali (kuburan) dan juga tidak apa-apa menyiram kuburan dengan air mawar meskipun sedikit, karena malaikat senang pada aroma yang harum.
Begitu pula yang termaktub dalam al-Bajuri

...ويندب أن يرش القبر بماء والأولى أن يكون طاهرا باردا لأنه صلى الله عليه وسلم فعله بقبرولده إبراهم وخرج بالماء ماء الورد فيكره الرش به لأنه إضاعة مال لغرض حصول رائحته فلاينافى أن إضاعة المال حرام وقال السبكى لا بأس باليسير منه إن قصد به حضور الملائكة فإنها تحب الرائحة الطيبة...

Disunnahkan menyiram kubur dengan air, terutama air dingin sebagaimana pernah dilakukan rasulullah saw terhadap pusara anyaknya, Ibrahim. Hanya saja hukumnya menjadi makruh apabila menyiraminya menggunakan air mawar dengan alasan menyia-nyiakan (barang berharga). Meski demikian menurut Imam Subuki tidak mengapa kalau memang penyiraman air mawar itu mengharapkan kehadiran malaikat yang menyukai bau wangi.

Hal ini sebenarnya pernah pula dilakukan oleh Rasulullah saw

” أن النبي ( صلى الله عليه وسلم ) رش على قبر ابراهيم ابنه ووضع عليه حصباء ”

Artinya: “Sesungguhnya Nabi Muhammad ShallaAllahu alaihi wa sallam menyiram [air] di atas kubur Ibrahim, anaknya dan meletakkan kerikil diatasnya.”

Begitu juga dengan meletakkan karangan bunga ataupun bunga telaseh yang biasanya diletakkan di atas pusara ketika menjelang lebaran. Hal ini dilakukan dalam rangka Itba’ sunnah Rasulullah saw. sebagaimana diterangkan dalam hadits

حَدثَناَ يَحْيَ : حَدَثَناَ أَبُوْ مُعَاوِيَةَ عَنِ الأعمش عَنْ مُجَاهِدٍ عَنْ طاووس عن ابن عباس رضي الله عنهما عَنِ النَّبِيّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ مَرَّ بِقَبْرَيْنِ يُعَذِّباَنِ فَقاَلَ: إِنَّهُمَا لَـيُعَذِّباَنِ وَماَ يُعَذِّباَنِ فِيْ كَبِيْرٍ أَمَّا أَحَدُهُمَا فَكَانَ لاَ يَسْتَتِرُ مِنَ البَوْلِِ وَأَمَّا اْلآخَرُ فَكَانَ يَمْشِيْ باِلنَّمِيْمَةِ . ثُمَّ أَخُذِ جَرِيْدَةً رَطْبَةً فَشْقِهَا بِنَصْفَيْنِ، ثُمَّ غُرِزَ فِي كُلِّ قَبْرٍ وَاحِدَةٍ، فَقَالُوْا: ياَ رَسُوْلَ اللهِ لِمَ صَنَعْتَ هٰذَا ؟ فقاَلَ: ( لَعَلَّهُ أَنْ يُخَفَّفَ عَنْهُمَا مَالَمْ يَيْـبِسَا)

Dari Ibnu Umar ia berkata; Suatu ketika Nabi melewati sebuah kebun di Makkah dan Madinah lalu Nabi mendengar suara dua orang yang sedang disiksa di dalam kuburnya. Nabi bersabda kepada para sahabat “Kedua orang (yang ada dalam kubur ini) sedang disiksa. Yang satu disiksa karena tidak memakai penutup ketika kencing sedang yang lainnya lagi karena sering mengadu domba”. Kemudian Rasulullah menyuruh sahabat untuk mengambil pelepah kurma, kemudian membelahnya menjadi dua bagian dan meletakkannya pada masing-masing kuburan tersebut. Para sahabat lalu bertanya, kenapa engkau melakukan hal ini ya Rasul?. Rasulullah menjawab: Semoga Allah meringankan siksa kedua orang tersebut selama dua pelepah kurma ini belum kering. (Sahih al-Bukhari, [1361])

Lebih ditegaskan lagi dalam I’anah al-Thalibin;

يُسَنُّ وَضْعُ جَرِيْدَةٍ خَضْرَاءَ عَلَى الْقَبْرِ لِلْإ تِّباَعِ وَلِأَنَّهُ يُخَفِّفُ عَنْهُ بِبَرَكَةِ تَسْبِيْحِهَا وَقيِْسَ بِهَا مَا اعْتِيْدَ مِنْ طَرْحِ نَحْوِ الرَّيْحَانِ الرَّطْبِ

Disunnahkan meletakkan pelepah kurma yang masih hijau di atas kuburan, karena hal ini adalah sunnah Nabi Muhammad Saw. dan dapat meringankan beban si mayat karena barokahnya bacaan tasbihnya bunga yang ditaburkan dan hal ini disamakan dengan sebagaimana adat kebiasaan, yaitu menaburi bunga yang harum dan basah atau yang masih segar.
Wallahu A'lam...
Mudah-mudahan Bermanfa'at


Wednesday, August 15, 2012

Sholat Sunah Kafarat (Qodho Salat)

Sholat Sunah Kafarat (Qodho Salat)

Syaikh Abdul Qadir Jailani qs


Shalat kafarah Bersabda Rasulullah SAW : " Barangsiapa selama hidupnya pernah meninggalkan sholat tetapi tak dapat menghitung jumlahnya, maka sholatlah di hari Jum'at terakhir bulan Ramadhan sebanyak 4 rakaat dengan 1x tasyahud (tasyahud akhir saja), tiap rakaat membaca 1 kali Fatihah kemudian surat Al-Qadar 15 X dan surat Al-Kautsar 15 X .

Niatnya: " Nawaitu Usholli arba'a raka'atin kafaratan limaa faatanii minash-shalati lillaahi ta'alaa" Sayidina Abu Bakar ra. berkata " Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda, "Sholat tersebut sebagai kafaroh (pengganti) sholat 400 tahun dan menurut Sayidina Ali ra. sholat tersebut sebagai kafaroh 1000 tahun.

Maka bertanyalah sahabat : umur manusia itu hanya 60 tahun atau 100 tahun, lalu untuk siapa kelebihannya ?". Rasulullah SAW menjawab, " untuk kedua orangtuanya, untuk istrinya, untuk anaknya dan untuk sanak familinya serta orang-orang yang didekatnya/ lingkungannya. "

Setelah sholat sehabis salam membaca shalawat Nabi sebanyak 100 kali dengan shalawat apa saja, membaca Basmalah, Hamdalah, Istighfar, syahadat dan Doa ini tiga kali  :

Allahumma yaa man laa tan-fa'uka tha'atii wa laa tadhurruka ma'shiyatii taqabbal minnii ma laa yanfa'uka waghfirlii ma laa yadhurruka ya man idzaa wa 'ada wa fii wa idzaa tawa'ada tajaa wa za wa'afaa ighfirli'abdin zhaalama nafsahu wa as'aluka. Allahumma innii a'udzubika min bathril ghinaa wa jahdil faqri ilaahii khalaqtanii wa lam aku syai'an wa razaqtanii wa lam aku syaii'in wartakabtu al-ma'ashii fa-innii muqirun laka bi-dzunuubii. Fa in 'afawta 'annii fala yanqushu min mulkika syai'an wa-in adzdzaabtanii falaa yaziidu fii sulthaanika syay-'an. Ilaahii anta tajidu man tu'adzdzi buhu ghayrii wa-anaa laa ajidu man yarhamanii ghaiyraka aghfirlii maa baynii wa baynaka waghfirlii ma baynii wa bayna khlaqika yaa arhamar rahiimiin wa yaa raja'a sa'iliin wa yaa amaanal khaifiina irhamnii birahmatikaal waasi'aati anta arhamur rahimiin yaa rabbal 'aalaamiin.

Allahummaghfir lil mukminiina wal mukminaat wal musliimina wal muslimaat wa tabi' baynana wa baynahum bil khaiyrati rabbighfir warham wa anta khairur-rahimiin wa shallallaahu 'alaa sayidina Muhammadin wa 'alaa alihii wa shahbihi wasallama tasliiman katsiiran amiin. (3 kali)

Artinya; Yaa Allah, yang mana segala ketaatanku tiada artinya bagiMu dan segala perbuatan maksiatku tiada merugikanMu. Terimalah diriku yang tiada artinya bagiMu. Dan ampunilah aku yang mana ampunanMu itu tidak merugikan bagiMu. Ya Allah, bila Engkau berjanji pasti Engkau tepati janjiMu. Dan apabila Engkau mengancam, maka Engkau mau mengampuni ancamanMu. Ampunilah hambaMu ini yang telah menyesatkan diriku sendiri, aku telah Engkau beri kekayaan dan aku mengumpat di saat aku Engkau beri miskin. Wahai Tuhanku Engkau ciptakan aku dan aku tak berarti apapun. Dan Engkau beri aku rizki sekalipun aku tak berarti apa-apa, dan aku lakukan perbuatan semua ma'siat dan aku mengaku padaMu dengan segala dosa-dosaku. Apabila Engkau mengampuniku tidak mengurangi keagunganMu sedikitpun, dan bila Kau siksa aku maka tidak akan menambah kekuasaanMu, wahai Tuhanku, bukankah masih banyak orang yang akan Kau siksa selain aku. Namun bagiku hanyaEnakau yang dapat mengampuniku. Ampunilah dosa-dosaku kepadaMu. Dan ampunilah segala kesalahanku di antara aku dengan hamba-hambaMu. Ya Allah Yang Maha Pemurah dan Maha Pengasih dan tempat pengaduan semua pemohon dan tempat berlindung bagi orang yang takut. Kasihanilah aku dengan pengampunanMu yang luas. Engkau yang Maha Pengasih dan Penyayang dan Engkaulah yang memelihara seluruh alam yang ada. Ampunilah segala dosa-dosa orang mu'min dan mu'minat, muslimin dan muslimat dan satukanlah aku dengan mereka dalam kebaikan. Wahai Tuhanku ampunilah dan kasihilah. Sesungguhnya Engkau Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Washollallahu 'Ala sayyidina Muhammadin wa'ala alihi wasohbihi wasalim tasliiman kasiira. Amin.

Diambil dari kitab "Majmu'atul Mubarakah", susunan Syekh Muhammad Shodiq Al-Qahhawi. Waktu pelaksanaan shalat ini dapat dilakukan antara waktu setelah Dhuha hingga sebelum Ashar, pada hari Jum'at terakhir di bulan suci Ramadhan.


 

Tuesday, August 14, 2012

PERBEDAAN CARA SALAT MENURUT MAZHAB SYAFI'I DAN HANAFI

PERBEDAAN CARA SALAT MENURUT MAZHAB SYAFI'I DAN HANAFI

Ketika kalian salat, kalian mengucapkan, "Allahu Akbar!" Seperti pada Mazhab Syafi'i, mereka harus mengikuti prosedur tertentu ketika memulai salat. Di dalam Hanafi, kalian cukup mengucapkan, "Allahu akbar" dan kemudian melakukan salat; tetapi di dalam Syafi'i seluruh tubuh kalian harus berkonsentrasi penuh dan memusatkan pikiran (bertafakur) pada saat mengucapkan, "Allahu akbar." (sambil memperagakan bagaimana bertakbiratul ihram menurut mazhab Syafi'i), membawa seluruh kekuatan luar kalian ke dalam kalbu. Itulah sebabnya ketika kalian salat bersama pengikut Syafi'i kalian melihat mereka bertakbir, "Allahu..." allahu (lalu mengulangi lagi) Allahu akbar..." itu adalah untuk menyakinkan, dan bukannya bermain-main, bahwa ketika merek
a memasuki salat, mereka memasuki jalan yang benar dalam memerangi Setan. Itulah niat yang paling penting dari salatnya. 
Mereka memiliki prinsip ini di dalam mazhab Syafi'i, sementara mazhab Hanafi mengatakan, innamaa'l- `amaalu bin-niyyat, (segala sesuatu berdasarkan niat), jadi mereka langsung mengucapkan "Allahu akbar." Dan mereka mengatakan niatnya adalah untuk Allah lalu serahkan amalan itu kepada Allah, tetapi mazhab Syafi'i berbeda, mereka mengatakan, "Kita harus fokus dalam memasuki/memulai salat."

Dan di dalam mazhab Hanafi ketika kalian mengikuti imam, kalian tidak perlu membaca apa-apa. Di dalam Syafi'i kalian membaca, ketika imam membaca Surat al-Fatiha, kalian membacanya setelah imam, itulah sebabnya imam berhenti sejenak untuk memberi kesempatan makmunya untuk membaca Surat al-Fatiha. Ketika kalian membaca, kalian lebih berkonsentrasi. Tetapi Hanafi mengatakan bahwa imamlah yang mengembang tanggung jawab. Tetapi Syafi'i berkata, "Tidak, kalian harus membacanya bersama imam atau mengikutinya atau membacanya setelah imam menyelesaikannya. Dengan begitu kalian lebih berkonstrasi."

{dari Shuhba Mawlana Syekh Hisyam Kabbani (q), 13 Agustus 2012}

Amalan Malam Jumat Terakhir Ramadan

Amalan Malam Jumat Terakhir Ramadan (Dapat dikerjakan bada Magrib, Kamis malam Jumat)
dari Syaikh Abdul Qadir Jailani qs
Pahala dari salat ini setara dengan pahala ibadah 1.000 bulan dan menutupi salat-salat yang tertinggal. Salat sunah ini 4 rakaat dengan satu salam di akhiran. 
Niat salat sunah nawafil untuk menutupi seluruh salat yang tertinggal.

Rakaat pertama : Fatihah + Al-Qadar 15 kali
Rakaat kedua : Fatihah + al-Kautsar 15 kali
Rakaat ketiga : Fatihah + Al-Qadar 15 kali
Rakaat ke empat : Fatihah + Al-Kautsar 15 kali.

Salawat : Allahumma sholi alaa Muhammadin wa alaa ali Muhammadin wa salim (100 kali). Kemudian berdoa 3 kali dengan doa ini.
 
 

Thursday, June 21, 2012

Ibadah Khusus Pada Hari-Hari Besar

Muslim Sufi : Ibadah Khusus Pada Hari-Hari Besar

Ibadah Khusus pada Hari-Hari Besar
Maulana Syaikh Adnan Kabbani
dalam Futuhat al-Haqqaniyya


Di bulan Rajab dan Sya’ban seseorang sebaiknya berpuasa:
a. Setiap hari senin dan kamis, atau
b. Setiap hari

Dalam Muslim, Abu Dawud, dan Ahmad dinyatakan bahwa ‘Utsman Ibnu Hakim al-Ansari berkata, “Aku bertanya kepada Sa’id Ibnu Jubayr mengenai puasa di bulan Rajab, kemudian kami sampai pada bulan itu, di mana beliau berkata, ‘Aku dengar Ibnu ‘Abbas berkata bahwa Rasulullah biasa berpuasa secara kontinu sehingga kami berpikir bahwa beliau tidak pernah menghentikannya dan di lain waktu beliau tidak berpuasa berhari-hari sehingga kami berpikir bahwa beliau tidak akan berpuasa lagi.”
Jika seseorang berpuasa setiap hari Senin dan Kamis maka orang itu juga harus berpuasa pada hari ke-15 setiap bulannya dan juga pada 26-27 Rajab. (sangat dianjurkan untuk berpuasa pada hari-hari ‘putih’ setiap bulan, yang jatuh pada hari ke-13, 14, dan 15). Ini hanyalah petunjuk secara umum, bila ada keraguan sebaiknya dikonsultasikan dengan seseorang yang ahli dalam syari’ah.

Laylatu l-‘Israa’ (27 Rajab)

Malam 27 Rajab adalah Malam Kenaikan Rasulullah e. Antara Maghrib dan ‘Isya dianjurkan untuk melakukan ibadah sebagai berikut:
a.Shalat 20 rakaat, 2-2 atau 4-4, setiap rakaat dibaca surat al-Ikhlash 20 kali.
b.Setelah selesai melaksanakan 20 rakaat, bacalah istighfar 100 kali dengan suara keras.
c.Dilanjutkan dengan shalawat 100 kali dengan suara keras.

Laylatu l-Baraa’ah (15 Sya’ban)

Rasulullah saw bersabda, “Allah melihat ciptaan-Nya pada malam pertengahan Sya’ban dan Dia mengampuni semua ciptaan-Nya kecuali orang musyrik (menyekutukan Tuhan) dan musyahin (orang yang penuh kebencian).” ‘A’isya berkata, “Rasulullah berdiri dalam shalatnya selama separuh malam dan melakukan sujud yang begitu lama hingga aku mengira nyawanya telah dicabut. Lalu aku bermaksud untuk menggerakkan tumitnya, seketika beliau pun bergerak, jadi aku mundur. Ketika beliau mengangkat kepalanya dari posisi sujud dan menyelesaikan shalatnya, beliau lalu berkata, “Yaa ‘A’isya y, Yaa Humayra! (si kecil yang pipinya merah) Apakah kamu pikir Nabi telah melanggar perjanjiannya denganmu?” ‘A’isya y lalu menjawab, “Tidak! Demi Allah Yaa Rasulullah , tetapi aku pikir nyawamu telah dicabut karena engkau sujud begitu lama.” Beliau membalas, “Apakah kamu tahu malam apakah sekarang?” “Allah dan Rasul-Nya Maha Tahu!”, jawabnya. Rasulullah lalu menjelaskan, “Ini adalah malam pertengahan Sya’ban! Sesungguhnya Allah Yang Maha Suci dan Maha Mulia melihat hamba-Nya pada malam ini. Dia memaafkan siapapun yang memohon ampun dan Dia memberikan rahmat kepada yang memintanya. Namun Allah akan menahannya terhadap pendengki dan orang-orang yang tidak mensyukuri keadaan mereka.” (Hadits riwayat Bayhaqi dalam Syu’ab al-Iman)

Al-Azhari menerangkan bahwa kalimat, ‘melanggar perjanjian denganmu’ merujuk kepada orang yang berkhianat kepada sahabatnya sehingga orang yang demikian ini tidak mendapatkan rahmat dari Allah. Bayhaqi menggarisbawahi bahwa hadits ini kehilangan salah satu mata rantainya sehingga dia menganggapnya sebagai hadits yang baik (hadha mursal jayyid). Mungkin karena al-‘Ala’ bin al-Harits mengambilnya dari Makhul, dan Allah Maha Tahu. Ini adalah malam ke-15 di mana rezeki kalian di tahun yang akan datang ditentukan pada hari ini dan malam ini merupakan malam yang penuh pengampunan.
Meskipun sebagian besar komentator hadits berpendapat bahwa “malam yang diberkati” dalam Surat ad-Dukhan ayat 3-6 merujuk kepada malam laylat al-Qadr yang jatuh di bulan Ramadhan, tetapi ada beberapa pendapat yang menyatakan malam itu juga bisa berarti malam pertengahan Sya’ban (laylat al-baraa’ah). Konsekuensinya syari’ah menganjurkan untuk mengistimewakan malam itu. Imam Suyuti berkata, “Bagi malam pertengahan Sya’ban terdapat penghargaan yang sangat besar dan sangat dianjurkan (mustahabb) untuk menghabiskan malam itu dengan kegiatan ibadah sunnat.”

Antara Maghrib dan ‘Isya, dibaca surat Yaa Siin sebanyak 3 kali, dengan niat sebagai berikut;
1. Untuk meningkatkan maqam atau posisi seseorang
2. Memohon diberikan rezeki atau dipenuhi kebutuhan hidupnya.
3. Memohon perlindungan dari musuh.

Setelah shalat ‘Isya, dilakukan shalat yang menurut Syaikh 'Abdul Qadir al-Jilani k dalam kitabnya Al-Ghunyatu li-Taalibiyi l-Haqq disebut shalat Khair (untuk memperoleh keberuntungan). Jumlah rakaat dalam shalat tidak ditentukan, namun seseorang diharuskan untuk membaca surat al-Ikhlash sebanyak 300 kali atau 1000 kali secara keseluruhan. Ada yang mengerjakan shalat 40 rakaat dengan tiap rakaat dibaca surat al-Ikhlash sebanyak 25 kali. Maulana Syaikh Nazhim k sendiri mengerjakannya dengan 2-2-2 rakaat sampai mencapai 100 rakaat dan tiap rakaat dibaca surat al-Fatiha lalu dilanjutkan dengan al-Ikhlash sebanyak 10 kali. Meskipun demikian dapat juga dilakukan dengan mengkombinasikannya ke dalam empat, enam atau delapan rakaat dengan satu kali salam.

Merits of Sha`ban

Muslimsufi: Merits of Sha`ban

Merits of Sha`ban

Mawlana Syaikh Hisyam Kabbani


Sha`ban is one of the meritorious months for which we find particular instructions in the Sunnah of Prophet Muhammad (s). It is reported in authentic ahadith that Prophet Muhammad (s), used to fast most of the month in Sha`ban. These fasts are supererogatory (nafl) and well deserving of reward, for Sha`ban is the month immediately preceding the month of Ramadan.The Prophet mentioned in a hadith, "Rajab is the month of Allah, Sha`ban is
my month and Ramadan is the month of the Nation".

1. The blessed companion Anas (r), reports that Prophet Muhammad (s), was asked, "Which fast is the most meritorious after the fasts of Ramadan?" He replied, "Fasts of Sha`ban in honor of Ramadan."

2. The blessed companion Usama ibn Zaid (r), reports that he asked Prophet Muhammad (s): "Messenger of Allah, I have seen you fasting in the month of Sha`ban so frequently that I have never seen you fasting in any other month." Prophet Muhammad (s), replied: That (Sha`ban) is a month between Rajab and Ramadan which is neglected by many people. And it is a month in which an account of the deeds (of human beings) is presented before the Lord of the universe, so, I wish that my deeds be presented at a time when I am
in a state of fasting."

3. Ummul Mu'mineen `Aishah (r), says, "Prophet Muhammad (s) used to fast the whole of Sha`ban. I said to him, 'Messenger of Allah, is Sha`ban your favorite month for fasting?' He said, 'In this month Allah prescribes the list of the persons dying this year. Therefore, I like that my death comes when I am in a state of fasting.'"

4. In another Tradition she says, "Prophet Muhammad (s), would sometimes begin to fast continuously until we thought he would not stop fasting, and sometimes he used to stop fasting until we thought he would never fast. I never saw the Messenger of Allah (s) fasting a complete month, except the month of Ramadan, and I have never seen him fasting in a month more frequently than he did in Sha`ban."

5. In another report she says, "I never saw the Messenger of Allah, (s), fasting in a month so profusely as he did in the month of Sha`ban. He used to fast in that month leaving only a few days, rather, he used to fast almost the whole of the month."

6. Ummul-Mu'mineen Umm Salamah (r), says: "I have never seen the Messenger of Allah fasting for two months continuously except in the months of Sha`ban and Ramadan."
These reports indicate that fasting in the month of Sha`ban, though not obligatory, is so meritorious that Prophet Muhammad (s) did not like to miss it.

The Night of Bara`ah

Another significant feature of the month of Sha`ban is that it consists of a night which is termed in Shari`ah as "Laylatul-bara`ah" (The night of freedom from Fire). This is the night occurring between 14th and 15th day of Sha`ban. Traditions of Prophet Muhammad (s), prove that it is a meritorious night in which the people of the earth are attended by special Divine mercy. We will be posting much more about this blessed night shortly.

What should be done in this night?

On the Holy Night of 15th Shaban, after Maghrib or Isha prayer it is traditional practice to read Surah Yasin three times, and after each time, read a special du`a with the following intentions: 1st reading the niyyat (intention) for should be for Long Life.
2nd reading the niyyat (intention) should be for Protection from Calamities.
3rd Reading the niyyat (intention) should be for not being needy to anyone
except Allah.

It is very necessary that just as others observe this night, you observe it. To make an invitation to feed people on that night, to remember Allah (swt) and to remember His Prophet (s), and to fast its day and pray its night, will be rewarded for that night and for whoever observes it. In order to observe the Night of Bara`ah, one should remain awakened in this night as much as he can. If someone has better opportunities, he should
spend the whole night in worship and prayer. However, if one cannot do so for one reason or another, he can select a considerable portion of the night, preferably of the second half of it for this purpose, and should perform the following acts of worship: It is good to spend that night praying Salat ul-Khair, which conists of 100 raka`ts, in each raka`t
reciting Sura al-Fatiha and 10 Surat Ikhlas. To complete the prayer one recites 1000 Sura Ikhlas. The Night of Bara`ah is a night in which special blessings are directed towards the Muslims. Therefore, this night should be spent in total submission to Allah Almighty, and one should refrain from all those activities which may displease Allah.

Fast of the 15th Sha`ban

On the day immediately following the Night of Bara`ah, i.e. the 15th of Sha`ban, it is mustahabb (advisable) to keep fast. Prophet Muhammad (s), is reported to have recommended this fast emphatically. A large number of the predecessors (salaf) of the Ummah have been observing the fast of the 15th of Sha`ban. Therefore, it is advisable to fast the 15th of Sha`ban as an optional (nafl) fast. One can also keep a fast of qada (make-up) on this day and it is hoped that he can also benefit from the merits of this fast.

Wednesday, June 20, 2012

Adab Memasuki Bulan Sya'ban dan Adab Harian di Bulan Sya’ban

Adab Memasuki Bulan Sya'ban dan Adab Harian di Bulan Sya’ban
Maulana Syaikh Muhammad Hisyam Kabbani qs


Bismillahir Rohmaanir Rohim

Ketika bulan sabit pertanda datangnya bulan Syakban mulai terlihat, murid melakukan mandi (ghusl) dan menyambut datangnya bulan ini dengan melakukan Salat Sunnat Wudu 2 rakaat. Kemudian berdiri menghadap kiblat, baca selawat sebanyak 100 kali. Perbuatan ini diulangi setiap hari hingga berakhirnya bulan Syakban.

Hindari keramaian dan lakukan adab Tarekat Naqsybandi Haqqani di sepertiga akhir dari malam hingga matahari terbit dan atau antara Salat Asar dan Magrib dan/atau antara Salat Magrib dan Isya. Niat : Nawaytu ‘l-arba’in, nawaytu ‘l-`itikaf, nawaytu ‘l-khalwah, nawaytu ‘l-`uzlah, nawaytu ‘r-riyadhah, nawaytu ‘s-suluk, lillahi ta’ala fii haadzal-masjid (atau fii haadzal-jaami`).

Aku berniat 40 (hari mengasingkan diri), aku berniat untuk beritikaf, aku berniat khalwat, aku berniat mendisiplinkan (ego), aku berniat mengadakan perjalanan di jalan Allah SWT, demi Allah SWT di masjid ini.


Awrad Harian ( Dzikir Harian )

Kalimat Syahadat :

Asyhadu an la ilaha illal Lah wa ash-hadu anna Muhammadan ‘Abduhu wa Rasuluhu 3x
Mohon ampunan : Astaghfirullah 70x
Surat al Fatiha 1x
Amanar Rasul  1x
Surat al Ikhlas 11x
Surat al Inshirah 7x
Surat al Falaq 1x
Surat an Nas 1x
La ilaha illa-Lah 9x La ilaha illa-Lah Muhammadun Rasul Allah 1x
Salawat Nabi :  Allahuma salli ‘ala Muhammadin wa ala ali Muhammaddin wa salim 10x
Ihda (menghadiahkan dan persembahan pahala ) 1x
Allahu Allahu Allaahu Haqq 3x.  Surat al Fatiha 1x

Dzikir Tambahan :

Allah, Allah 1500x
Salawat    Allahuma salli ‘ala Muhammadin wa ala ali Muhammaddin wa salim 100x
Bacaan Quran  1 juz Quran atau Surah al Ikhlas 100x
Satu bab Dala’il al-Khayrat (sebagai bagian dari awrad harian) Atau Salawat : Allahuma salli ‘ala Muhammadin wa ala ali Muhammaddin wa salim 100x

Laa ilaa ha illallaah 100x
Astaghfirullaahal “Azhiim wa atuubu ilaih 100x
Ya Latif 100x
Bismillaahir Rahmaanir Rahiim 100x
Hasbiyallaahu wa ni’mal wakil 100x

Tambahan khusus Bulan Syaban :

Baca Surat al-An’am (1x setiap hari)
Selawat 2.000 kali (sebagai tambahan dari awrad harian)
Selawat 100 kali (dilakukan ketika berdiri menghadap kiblat dan didedikasikan kepada Nabi SAW).


Penjelasan Dzikir Harian Untuk Tingkat Persiapan
                                                                      
Murid yang telah siap harus menambah dhikir selain yang disebut diatas :  Tingkatkan jumlah pengulangan asma “Allah” dari 1500 sampai 2500 dengan lidah dan tambahkan 2500 dengan hati, sambil berkosentrasi pada Nama di atas.
Tingkatkan jumlah bacaan shalawat Nabi dari 100 sampai 500 kali pada hari Senin, Kamis, dan Jum’at - serta 300 kali pada hari-hari lainnya.

Membaca Sayyid as-salawat yang dilakukan sebelum do’a persembahan”  (Ihda )  
Setelah Ihda, bacalah Fatiha, kemudian ulangi Allah Hu Allah Hu Allah Hu Haqq tiga kali, bayangkan diri Anda di antara Tangan-Tangan Sang Pencipta.

Juga penambahan jumlah pengulangan Asma Allah sampai 5000 diucapkan dengan keras dan 5000 kali dalam hati, kemudian tingkatkan bacaan shalawat Nabi dari 300 sampai 2000 setiap hari Senin, Kamis dan Jum’at serta 1000 kali di 4 hari sisanya.

Penjelasan Mengenai Amalan Harian

1. Syahadat atau Pengakuan Keimanan

Kalimat Syahadat di baca sebanyak tiga kali. Yang pertama untuk diri sendiri, bayangkan Kehadiran Nabi dan katakan dalam hati,” Wahai guruku; wahai Nabi Allah ! engkaulah saksiku; Tuhan adalah saksiku; seluruh malaikat adalah saksiku, para Sahabat dan para Nabi adalah saksiku; setiap hamba ciptaan adalah saksiku dan Syaikhku adalah saksiku.”

Syahadat kedua atas nama diri sendiri, para orang tua, anak-anak Anda, keluarga Anda, saudara perempuan dan laki-laki, teman-teman, tetangga dan relasi serta seluruh umat muslim.

Syahadat yang ketiga di atas namakan untuk kaum yang kafir dengan niat agar mereka menjadi mukmin.

ALLAHU…ALLAHU…ALLAHU…HAQQ

Duduk di atas lutut, konsentrasikan pada hubungan dengan syaikh Anda, lalu dari Syaikh menuju Nabi, kemudian dari Nabi menuju Hadirat Ilahiah.

Ayat Keimanan Rasul  (Ayat  Amanar-Rasul  2:285-286)                    

Aamana  ar-rasuulu bimaa unzila ilayhi min Rabbihi wa ‘l-mu’minuun. Kullun aamana Billaahi wa malaa’ikatihi wa kutubihi wa rusulihi laa nufarriqu bayna aahadin min rusulihi wa qaaluu sam’inaa wa atanaa ghufraanaka Rabbanaa wa ilaykal masiir.

Laa yukallif-Ullaahu nafsan illa wus’ahaa. Lahaamaa kasabat wa ‘alayhaa maaktasabat. Rabbanaa laa tuu’aakhidhnaa in nasiinaa aw akhtaanaa. Rabbanaa wa laa tahmil ‘alaynaa isran kamaa hamaltahu ‘alaa alladhiinaa min qablinaa. Rabbanaa wa laa tuhamilnaa maa laa taaqata  lanaa  bihi w’afu ‘anaa waghfir lanaa warhamnaa Anta Mawlaanaa f’ansurnaa ‘alaa l qawm il-kafiiriin.

Rasul telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, dan juga orang-orang yang beriman. Semuanya beriman pada Allah, para malaikat, kitab-kitab-Nya, dan para Rasul-Nya, seraya berkata,” Kami tidak membeda-bedakan antara seseorang (dengan yang lain) daripada Rasul-Rasul-Nya.”

Dan mereka berkata,”kami dengar dan kami taat. Ampuni kami wahai Tuhan kami dan kepada Engkaulah kami kembali.” Allah tiada membebani seseorang melainkan sesuai kesanggupan. Baginya (pahala)apa yang dia kerjakan.

(Mereka berdoa) “Wahai Tuhan kami, janganlah Engkau siksa kami jika kami lupa atau bersalah.Wahai Tuhan kami, jangan Engkau pikulkan pada kami beban berat, sebagaimana Engkau pikulkan pada orang-orang sebelum kami. Jangan Engkau pikulkan kami beban yang kami tak sanggup memikulnya. Maafkan kami, ampuni kami, rahmatilah kami, Engkaulah Pelindung kami, maka tolonglah kami dari kaum kafir.”

Siapa yang membaca ayat ini akan meraih maqam tinggi dan posisi yang agung. Dia akan menerima tingkatan keselamatan dunia dan akhirat. Dia akan memasuki lingkaran keamanan dalam Hadirat Ilahi, Maha Kuasa dan Maha Agung. Ia akan meraih semua maqam-maqam dalam Thareqat yang paling mulia Naqsybandi. Dia akan menjadi pewaris rahasia Nabi dan para Awliya, dan akan tiba pada maqam Bayazid al Bistami, Imam Thareqat ini,  yang mengatakan,” Saya adalah Kebenaran juga.” Inilah manifestasi keagungan ayat ini, dan juga ayat-ayat lain. Grandsyaikh Khalid al Baghdadi menerima penglihatan dan rahasia ayat ini, melaluinya Tuhan menganugerahi keistimewaan di waktu beliau.


SURAT AL FATIHA ( 1x )

Bacalah surat al Fatiha dengan niat pertama untuk  turut serta dalam Tajali keberkahan atas surat itu saat diturunkan di Mekkah. Pembacaan yang kedua diniatkan untuk dibaginya rahmat atas surat itu saat diturunkan kedua kalinya di Madinah. Grandsyaikh Abdullah Faiz ad Dghestani qs berkata,”Jika seseorang membaca surat al Fatiha, dia tidak akan meninggalkan dunia ini tanpa meraih barakah suci yang tersembunyi di balik makna surat al Fatiha yang memungkinkan dia untuk meraih  tingkatan kepasrahan pada Tuhan, Yang Maha Kuasa lagi Maha Mulia. Berkah surat al Faatiha yang Tuhan anugerahkan ketika diberikan pada Nabi tidak akan berhenti, dan akan abadi bersama siapapun yang membacanya.

Tak seorangpun yang tahu berapa banyak berkah di sana kecuali Tuhan dan para utusan-Nya. Siapa yang membacanya tanpa niat ini akan menerima karunia suci secara umum, namun siapapun yang membaca surat fatiha, dengan niat untuk berbagi Rahmat Ilahi akan mencapai sebuah posisi yang tinggi  dan sebuah tingkatan mulia. Surat ini mengandung maqam-maqam yang tidak terbatas dan tak terhitung  dalam Pandangan Tuhan, Yang Maha Perkasa lagi Maha Tinggi.

Sayyid as-Salawat (Sultan Salawat)

‘alaa ashraf il-‘alamina Sayyidina Muhammadini salawaat
‘ala afdal il-‘alamina Sayyidina Muhammadini salawaat
‘ala akmal il-‘alamina Sayyidina Muhammadini salawaat

Salawaatullaahi ta’alaa wa malaa’ikatihi wa anbiyaa’ihii wa rusulihi wa jami’i khalqihi ‘ala Muhammadin wa ‘ala ali Muhammad, ‘alayhi wa ‘alayhimu ‘s-salam wa rahmatullahi ta’ala wa barakatuhu, wa radi-Allahu tabaraka wa ta’ala ‘an  sadatina ashabi Rasulillahi ajma’in, wa ‘an it-tab’iina bihim bi ihsan,  wa ‘an il-a ‘immat il-mujtahidin al-madin, wa ‘an il-‘ulama il-muttaqqin, wa ‘an il awliya ‘is-salihin, wa ‘am-mashayikhina fit-tariqati ‘n-Naqshbandiyyati ‘l-‘alliya, qaddas-Allahu ta’ala arwahahum uz-zakiiyya, wa nawwar Allahu ta’ala adrihatahumu ‘l-mubaaraka, wa a’ad-Allahu ta’ala ‘alayna min barakaatihim wa fuyuudatihim daa’iman wa ‘hamdulillahi Rabb il-‘alamin, al-Fatiha

Arti :

Bagi yang termulia, pemimpin kami  Muhammad saw (salawat)
Bagi yang terpilih diantara seluruh ciptaan, pemimpin kami Muhammad saw, (salawat)
Bagi yang paling sempurna di antara seluruh ciptaan, pemimpin kami Muhammad, (salawat)

Keberkahan Allah Yang Maha Mulia, atas para malaikat-Nya, atas para nabi-Nya, atas para rasul-Nya, atas seluruh ciptaan bagi Muhammad dan seluruh keluarganya, semoga kedamaian dan rahmat Allah serta Berkah-Nya atas beliau dan mereka.

Semoga Allah, Yang penuh berkah dan Maha Tinggi berkenan pada setiap Pimpinan kami, Sahabat Rasul Allah, dan siapapun yang mengikuti mereka dengan sempurna, dan para Mujtahid, dan para ulama, dan para awliya yang sholeh, dan para Syaikh kami thareqat yang mulia Naqsybandi, Semoga Allah menyucikan jiwa mereka yang murni, dan menerangi makam mereka yg penuh berkah. Semoga Allah mengembalikan pada kita berkah-Nya dan terus berlimpah mengalir. Pujian milik Allah dan Tuhan semesta alam, al-Fatiha.


DEDIKASI, HADIAH PERSEMBAHAN ( IHDA )

Allaahumma balligh thawaaba maa qaraa’naahuu wa nuura maa talawnaahuu hadiiyyatan waasilatan minnaa ila ruuhi Nabiiyyiinaa Sayyidinaa wa Mawlaanaa Muhammadin salla-llaahuu ‘alayhi wa sallam.  Wa ilaa arwaahi ikhwaanihi min al anbiyaa’i wa ‘l-mursaliin wa khudamaa’i sharaa’ihim wa ila arwaahi al-a’immati  al-arba’ wa ila arwaahi mashaykhinaa fit-tariiqati an-naqsybandiiyyati al-‘aliyyati khaassatan ila ruuhi  Imaam at-tariiqati wa ghawth il-khaliiqati Khaajaa Bahauddin an-Naqshband Muhammad al-Uwaisi al-Bukhari wa hadarati ustadhinaa Mawlanaa Sultaan al-awliyaa Syaikhunaa ash-syaikh ‘Abd Allaah al-Faiz ad-Daghestani wa sayyidunaa ash-Syaikh Muhammad Nazim al-Haqqani Mu’ayyaddin, Mawlana Syaikh Muhammad Hisyam Kabbani, wa sa’iri saadaatinaa was-siddiqiyyina al-Fatiha

Ya Allah ! limpahi kami dengan karunia atas apa yang kami baca, dan cahaya dari apa yang kami baca, sebagai pemberian dan hadiah dari kami bagi ruh Nabi kami Muhammad, dan ruh para Nabi, dan para awliya; khususnya ruh Imam thareqat dan ghawth bagi dunia, Khaja Bahauddin an-Naqshband Muhammad al-Uwaisi al-Bukhari, dan guru serta pimpinan kami, Sultanul Awliya, Syaikh Abdullah al-Faiz ad-Daghestani, dan pimpinan kami Syaikh Muhammad Nazim al-Haqqani dan Mawlana Syaikh Hisyam Kabbani dan bagi seluruh pimpinan kami dan kaum siddiqin… al-Fatiha

( Ihda ini merupakan persembahan pahala atas pembacaan do’a-do’a sebelumnya yang ditujukan pada Nabi saw dan bagi para Syaikh Thariqat Naqsybandi.  Ihda bagai kita membungkus amalan kita kemudian kita hadiahkan ).


SURAT AL IKHLAS ( QS : 112 )

Siapa yang membaca surat ini  akan menerima Karunia Ilahiah dari dua Asma Agung, Yang Esa ( al-Ahad), dan  Yang Abadi ( as-Samad ). Siapa yang membacanya  pasti menerima bagian dari Asma-asma ini.


SURAT AL INSHIRAH ( QS : 94 )

Setiap huruf dan setiap ayat quran ada sebuah manifestasi Ilahiah, yang berbeda satu sama lain. Siapa yang membaca satu ayat atau satu huruf akan meraih Karunia Ilahiah yang khas dimiliki oleh surat atau huruf tersebut. Jika ada yang membaca surat ini maka dia akan menerima karunia dan kebaikan yang terkandung di dalamnya. Siapa yang ingin menerima kebaikan-kebaikannya, harus selalu menjaga doa-doa ini beserta kewajiban-kewajiban lain. Maka dia akan mencapai kehidupan yang hakiki dan abadi.


SURAT AL FALAQ ( 113 ) DAN SURAT  AN-NAS ( 114 )

Kenyataan akan rahasia dan keseluruhan  yang sempurna dalam Asmaul Husna berhubungan dengan dua surat ini. Karena keduanya menandai akhir dari Quran, maka keduanya dihubungkan dengan kelengkapan dalam karunia Ilahiah. Dengan ayat-ayat ini, para guru  Thareqat yang paling mulia Naqsybandi  menjadi samudra-samudra ilmu dan makrifat. Grandsyaikh Abdullah ad-Daghestani mengatakan :

Sekarang kalian telah mencapai awal, dimana setiap ayat, huruf dan surat  dalam quran  memiliki manifestasi istimewa yang tidak sama satu dengan lainnya. Dengan alasan itulah Nabi bersabda : “ Aku tinggalkan 3 hal untuk umatku – kematian yang akan membuat mereka takut,  mimpi yang benar yang akan memberi mereka kabar baik, dan Qur’an  yang akan berbicara pada mereka.”

Dengan sarana Quran, Tuhan akan membuka gerbang-gerbang karunia Ilahiah di Masa Akhir, sebagaimana di turunkannya pada masa Nabi, para Sahabat, masa Khalifa dan di masa para Awliya.

Tingkatan-tingkatan ini dan Karunia Ilahiah terikat bersama dan tak bisa dipisahkan, jadi segala kekurangan dalam latihan spiritual otomatis akan menjadikan berkurangnya Karunia Tuhan yang dikirim. Sebagai contoh, jika kita ingin membasuh tangan , kita hanya perlu menunggu di depan kran dimana air akan keluar. Jika pipa terputus sehingga air keluar sebelum sampai ke kran, berapa lamapun kita menunggu, air tidak akan mengalir keluar. Jadi kita harus menutup segala kekurangan dalam dzikir kita sampai kita menerima Karunia Ilahiah.

Praktik-praktik spiritual  ini diperuntukkan bagi tiga  tingkatan murid yang harus dilakukan sekali setiap 24 jam, bersama dengan kewajiban lainnya, menurut syariat. Segala hal yang dibawa oleh Nabi dapat ditemukan dalam praktik spiritual ini. Inilah cara agar seorang hamba mencapai kunci Kedekatan dengan Tuhan, Yang Maha Kuat dan Maha Tinggi. Dengan cara seperti itulah Nabi-nabi, para rasul, dan awliya sampai pada Tuhan mereka. Dan dengan sarana praktik spiritual inilah kita menggapai semua maqam dalam thareqat yang paling mulia ini.

Guru-guru dalam thareqat Naqsybandi yang paling mulia ini mengatakan  bahwa siapapun yang mengklaim bahwa dia telah bergabung dengan salah satu thareqat lain atau dengan thareqat yang paling mulia Naqsyabandi, namun belum pernah mengamalkan suluk paling tidak sekali dalam hidupnya, maka dia seharusnya malu karena menghubung-hubungkan dirinya dengan mereka yang berada di jalur itu.

Di zaman kami, Grandsyaikh Abdullah ad-Daghestani mengatakan
“Siapapun orang yang di akhir hidupnya ingin mendapat tingkatan tinggi  dan sebuah maqam yang mulia dan mendapatkan apa yang biasanya didapat oleh para murid dengan perantaraan khalwat dan latihan spiritual harus terus melakukan praktik spiritual dan dzikir pada Allah”.

Dengan hal ini sebagai landasan, kita telah mengatur jalan menuju maqam-maqam yang lebih tinggi-yang terbangun atas dasar ini. Murid harus tahu apakah dia gagal meraih maqam mulia dan tingkatan tinggi di dunia ini karena kurangnya usaha, maka dia tidak seharusnya diasingkan dari dunia ini, namun Syaikh akan membuatnya berhasil dan membuka maqamnya, bisa jadi di sepanjang hidupnya atau di saat tujuh nafas terakhir selama sakaratul maut.

Siapapun yang mengerjakan amalan-amalan spiritual lalu melakukan perbuatan yang dilarang agama, diibaratkan seseorang yang membangun rumahnya di tepi karang curam, lalu rumahnya jatuh. Jadi kita harus selalu waspada akan segala perbuatan, mengukurnya apakah ada yang dilarang atau diijinkan, apakah Tuhan akan murka dengannya atau tidak.

Dan kita harus berpikir keras akan setiap perbuatan, yang puncaknya agar kita tidak melakukan sesuatu yang di haramkan, yang dapat melemahkan pondasi kita. Karena Nabi bersabda dalam hadistnya : “Satu jam bertafakkur lebih baik dari tujuh puluh tahun beribadah.” Kita harus melaksanakan semua perbuatan dengan cara yang benar, artinya tanpa ada campuran amalan yang terlarang.

Atas dasar ini, Tuhan membagi satu hari dalam tiga bagian : delapan jam untuk ibadah, delapan jam untuk mencari nafkah, delapan jam untuk tidur. Siapapun yang tidak mau menerima pembagian ini ditunjukkan dalam Hadist berikut : “ Siapa yang tak menentu hidupnya, maka dia akan tak menentu pula dalam neraka.”

Siapa yang menuruti kemauannya sendiri dan selalu beralasan, dia tidak akan maju. Siapa yang ingin meraih maqam-maqam yang mulia, tingkatan-tingkatan, dan tahap-tahap yang generasi sebelumnya telah raih – dengan cara perenungan dan latihan-latihan spiritual lainnya harus terus mengingat Tuhan sepanjang hari. Siapa yang melakukan amalan teratur dalam latihan spiritual ini akan meraih Hakikat Air Kehidupan, yang dengannya dia akan berwudhu. Dia akan mandi di dalamnya, meminumnya, dan dengannya dia akan mencapai tujuannya.

Mungkin saja ada murid yang mengaku bahwa dirinya telah 30 tahun dalam thareqat ini namun tidak meraih dan melihat apapun. Maka seharusnya dia menengok kembali segala perbuatannya selama beberapa tahun.  Berapa banyak kekurangan yang dilakukannya ? Ketika dia melihat keburukan, seharusnya segera menjauhkan diri, agar sampai pada Tuhan, Yang Maha Kuat dan Maha Mulia.

Jika murid meninggalkan kewajiban harian yang Syaikh perintahkan, maka dia sudah tentu tidak mampu membuat kemajuan. Dan dia tidak akan mampu menjaga tingkatan  yang sebelumnya telah diraih. Tidak ada Nabi yang meraih tingkat kenabian, atau tak seorang wali yang meraih tingkat kewalian,  atau tak seorang berimanpun yang meraih tingkat keimanan tanpa menggunakan waktunya bagi dzikir hariannya.

Wa min Allah at Tawfiq


 
Sultan Awliya Mawlana Syaikh Muhammad Nazim Adil Haqqani qs dan istri beliau Hajah Aminah qs (salah satu wali arbain)

Malam Suci Laylatul Bara’at (Malam Nisfu Syaban)

Malam Suci Laylatul Bara’at (Malam Nisfu Syaban)
Sultan Awliya Mawlana Syaikh Nazim Adil al-Haqqani qs
Lefke Cyprus 17 August 2008


Bismillahir Rohmaanir Rohim


Sohbet untuk Malam Suci Laylatul Barra’at: Suatu Tajalli Baru! As-salamu alaikum! Audhu bi-llahi mina shaytani rajim.
Bala terbesar yang beredar disekitar manusia berasal dari Setan, maka itu kita diperintahkan untuk berlari dari setan. Tetapi saat ini manusia justru berlari kearah mereka.

Kadang di jendela sebuah mobil ada stiker yang bertuliskan: “Follow Me”, “Ikuti Aku!” Untuk apa tulisan “Ikuti Aku” ini? Saat ini manusia tidak berlari menjauh tapi jusrtu berlari kearah Setan, mengikuti yang terkutuk itu! Kalau kau mengikuti yang terkutuk tersebut, bagaimana jadinya? Maka yang datang kearahmu kutukan atau doa? Untuk itu kita harus berkata:


”Audzu bi-llahi mina shaytani rajim Bismillahir Rahmanir Rahim”

Kalimat ‘Bismillahir Rahmanir Rahim’ ini merupakan pedang kita untuk mempertahankan diri dari setan, karena setan mudah dan tidak pernah berhenti berharap dalam upayanya menjerumuskan seseorang. “Suatu hari” katanya: “aku akan menangkapnya, dan saat kutangkap yang itu...” Saat ia sedang minum, Setan akan datang dan berkata: “O teman baikku, mari rasakan minumakan keras ini dan kebulkan asap rokok kalian... ini sangat sangat berguna, karena kalau kau tidak merokok, tidak seorangpun yang akan mengatakan kalau kau adalah seorang lelaki sejati, lelaki yang kuat...”.

Kemudian kalian akan berkata, “Kapalaku pusing!”. Setan menjawab “Jangan cemas, hari ini begitu tapi besok kau akan terbiasa... Coba  lihatlah kaca itu!” Setan datang mengajarkan manusia ‘sharr’, yani, perilaku terkutuk yang ditentukan oleh surga. Perilaku apapun yang bertentangan dengan Aturan Surga, maka kutukan akan datang kepada kalian! Secepat kilat kutukan akan datang kepada kalian, memusnahkan yang kalian miliki!

“Wahai manusia! Selamat datang! Selamat datang, egomu tidak pernah suka kesini dan egomu juga marah: “Mengapa kau membawaku ke tempat itu? Berada disitu tidak untuk menari, tak seorangpun... bahkan: Jangan Merokok dan berbagai larangan, juga tertulis... mengapa kau membawaku ke tempat itu?” Untuk itulah kita harus mengucapkan:
”Audhu bi-llahi mina shaytani rajim”, dan kita harus mengucapkan: “Bismillahir Rahmanir Rahim, Bismillahir Rahmanir Rahim- raghman li Shaytan, li-llahi Rahman! Bismillahir Rahmanir Rahim, Bismillahir Rahmanir Rahim!”.

Mengapa kalian melempar jumrah di Mina? Mengapa, apa artinya? Hal itu berarti Allah Maha Besar meminta kita untuk membiasakan diri untuk melempar batu kepada Setan! Ketika setan datang dan mengajak kalian pergi dari jalan yang diberkahi, lempar mereka dengan‘Audhu bi-llahi mina shaytani rajim’ dan katakan: ‘Bismillahir Rahmanir Rahim’! Bahwa setan harus tahu kalau kita adalah hamba Tuhan kita, Yang menciptakan kita! Siapa yang bisa berkata tidak ada Tuhan? Begitu banyak orang bodoh! Saya harus bertanya: Jika tidak ada Tuhan – siapakah yang membawa kalian dalam keberadaan? Bagaimana kalian bisa ada? Lewat dirimu sendiri? Kalian telah diundang untuk hadir di bumi?

Bagaimana kalian saat ini berkata: ‘Tidak ada Tuhan? Untuk berkata: ‘Tidak ada Tuhan, sangatlah mudah, tapi hal itu merupakan perkataan terburuk yang dapat diucapkan manusia! Hal itu menyebabkan amarah surgawi jatuh diatas mereka, dan jika itu terjadi, ketika hal itu bergerak, maka tak ada kekuatan yang bisa menghalangi! Senjata jarak jauh, pemusnah, senjata lainnya, seperti atom dan teknologi apapun yang kalian miliki, tidak berarti, seandainya Amarah surgawi bergerak kearah bumi!

Wahai manusia, jumlah kita ini banyak dan kita menggapai, Insha Allah, malam yang tersuci, yaitu Laylatu-l Baraat, dimana Nabi sws berkata : “Tidak ada malam lain yang lebih berharga setelah Malam yang penuh Kekuatan selain Malam Barrat”- malam ini!... Mana Imamnya! Bacakan Suratu-l Ha Mim!... (Imam: “Audhu bi-llahi mina shaytani rajim, Bismillahir Rahmanir Rahim. Ha Mim, wa-l kitabi-l mubin. Inna anzalnahu fi laylatin mubarakatun inna kunna munzilin fiha yufraqu fi kulli amrin hakim...”)

Alhamdulillah, barakah baru saja diberkan pada kita, dan kita meminta ampunan dan bimbingan dari Tuhan Allah Yang Maha besar untuk tahun ini, agar dikirimkan pada kita, sehingga kita bisa mengikuti Yang Terkasih dan Teragung, hamba terbaik yang diciptakan dari pra-keabadiaan sampai ke keabadian, yaitu  S.Muhammad sws! Begitulah manusia bisa menyelamatkan diri! Karena jika tidak, mereka akan dibawa pergi!Dan malam ini...akan menjadi awal perubahan baru untuk setahun penuh, apa yang akan terjadi, kita berharap nama kita berada diatas meja Surga dan bukan di diatas meja neraka!

Wahai umat, dunia adalah dunia yang gelap; tak seorangpun yang bahagia dengan dunia yang mereka cintai, mereka memberikan cintanya untuk dunia yang kotor. Dan dunia adalah tempat yang gelap, tetapi setan dan ego kita mendorong diri kita: “Ohhh, kalian harus berusaha untuk selamanya di dunia!” apa hasilnya? Meleleh, meleleh, meleleh...

Siapa yang meminta untuk bersama Allah Yang Maha Besar, Allah memberikannya kepada satu-satunya keberadaan sejati, Haqqani, selamanya, sampai ke keabadian, keabadian hidup! Keabadian – begitu manis kata tersebut dalam bahasa Inggris, saya tidak melihat... Keabadian, ebedi, sarmadi, daimumi... Tidak ada kata lain yang memberikan kebahagiaan dan kenikmatan jiwa saya selain kata ‘keabadian! Coba raih keabadian! Jika tidak, kalian akan kembali dunia kegelapan, kalian tidak bisa melihat apa-apa – sejumlah makhluk hidup dalam kegelapan, dibawah bumi ini – dan hal itu tidak mudah! Masalah besar bagi seseorang untuk terpenjara dalam kegelapan!

Jadi bahagialah dan bersenang-senanglah mereka, yang memohon dunia yang tercerahkan, dunia yang tidak terlihat, untuk mencapai lebih dan lebih banyak lagi kenikmatan dan cahaya! Cahaya Ilahiah datang kepada mereka selamanya, selamanya, selamanya, sampai tiada akhir... Dunia yang kotor! Meski kotor isinya, mereka memintanya, menjadi ini, menjadi itu...Begitu lemahnya iman, begitu lemahnya kepercayaaan! Hal itu tidak benar! Datang, sedikit demi sedikit untuk menerima dan berada dalam keabadian, keabadian hidup melalui samudera penciptaan tanpa batas! Datang dan memohonlah! Jangan meminta dunia, tetapi demi Pencipta Surga. Semoga Allah mengampuni kita semua! Fatiha!

Allah Allah, Allah Allah, Allah Allah, Aziz Allah...
Allah Allah, Allah Allah, Allah Allah, Karim Allah,
Allah Allah, Allah Allah, Allah Allah, Subhan Allah,
Allah Allah, Allah Allah, Allah Allah, Sultan Allah!

Allahumma salli ‘ala Sayyidina Muhammadin Nabi ummiyi wa ‘ala alihi wa sahbihi wa sallim...

Wa min Allah at Tawfiq
 
Sultan Awliya Mawlana Syaikh Nazim Adil al-Haqqani qs

Hadist-Hadist Keutamaan Bulan Sya’ban

Hadist-Hadist Keutamaan Bulan Sya’ban


Bismillaahir Rahmaanir Rahiim

Bulan Sya’ban adalah antara bulan yang mulia di sisi Allah swt. Syaban adalah bulan yang membawa keberkatan, nikmat dan kesejahteraan bagi umat Islam seluruhnya.

Baginda Rasulullah saw banyak berpuasa sunat dalam bulan yang mulia ini. Umat Islam digalakkan melakukan amal ibadat dengan berganda. Ini mengikuti sunah Nabi kita Muhammad saw yang banyak meningkatkan amal ibadatnya kepada Allah swt pada bulan yang agung ini.

Hadis yang diriwayatkan oleh Al-Nasa’i dari Usamah bin Zaid ra berkata : ”Aku bertanya Rasulullah tentang bulan Syaaban kerana aku tidak pernah lihat baginda banyak berpuasa sunat sebagaimana beliau berpuasa dalam bulan Syaaban.
Baginda menjawab: ”Bulan yang banyak manusia lalai dan adalah bulan di antara Rajab dan Ramadan. Pada bulan Syaaban akan diangkatkan catatan amalan hamba kepada Allah swt. Dengan itu aku amat suka supaya diangkatkan amalanku ketika aku berpuasa.”

Sebenarnya amal ibadat hamba diangkat oleh malaikat tiap-tiap hari manakala amal ibadat bulan Syaaban ini bolehlah dikatakan laporan tahunan bagi amalan hamba.
Hadis ini menunjukkan bahwa banyak orang yang lalai dalam bulan Syaa’ban ini. Mereka tidak mengambil kesempatan untuk beramal ibadat seperti mana mereka bersungguh-sungguh meluangkan masa beribadat kepada Allah swt pada bulan Ramadan. Ini karena adat Jahiliyah dahulu orang Mekah lebih mengutamakan dan memuliakan bulan Rajab dan melupakan bulan Syaaban.

Di antara hikmah digalakkan banyak berpuasa sunat pada bulan Syaaban ialah kerana selepasnya diikti oleh bulan Ramadan yang diwajibkan berpuasa keseluruhannya. Dengan itu puasa pada bulan Syaaban merupakan perintis dan latihan untuk membiasakan diri bagi menunaikan kewajipan puasa Ramadan sepenuhnya.

Bagi mereka yang sudah biasa berpuasa sudah tentu kuranglah rasa penat dan tidak terkejut untuk berpuasa dalam Ramadan nanti. Sebuah hadis lagi yang memberi perangsang kepada kita umat Islam supaya mengikut sunah Rasulullah saw.

1. Dari Ummu Salamah meriwayatkan bahawa beliau saw tidak pernah melihat Rasulullah saw berpuasa dalam setahun sepenuhnya kecuali bulan Syaaban. Kemudian baginda terus menyambung puasa Ramadan.

2. Al-Nasai dari Ummu Salmah berkata: ”Aku tidak pernah melihat Rasulullah berpuasa dua bulan berturut-turut kecuali bulan Syaaban dan Ramadan.

3. Aishah pula meriwayatkan bahawa Rasulullah berpuasa diseluruh bulan Syaban.

Berkenaan dengan kelebihan Nisfu Sya’ban yaitu malam pertengahan bulan Syaban pula kita boleh dapati melalui hadis yang diriwayatkan oleh Ibn Habban dalam kitab al-Sahihnya, daripada Muaz bin Jabal r.a. bahawa Nabi saw bersabda yang maksudnya: Allah swt melihat kepada hamba-Nya pada malam Nisfu Syaaban dan Allah akan memberikan pahalanya kepada seluruh hambanya kecuali mereka yang melakukan kesalahan syirik dan orang yang menyebarkan fitnah.

Dalam hadis yang lain sebagaimana yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Amru bin al-As bermaksud: ”Allah swt memandang kepada makhluk-Nya pada malam Nisfu Syaaban, lalu diampuni dosa hamba-Nya kecuali dua golongan, yaitu orang yang membunuh diri dan orang yang menyebarkan fitnah.

Hadis-hadis ini menggambarkan kepada kita kelebihan bulan Syaaban yang sungguh istimewa. Ibadah mesti digandakan sebagaimana yang dibuat oleh Rasulullah saw yang membanyakkan puasa sunat. Hadis tersebut juga menunjukkan bahawa Allah swt sedia memberi ampunan kepada hamba-hamba-Nya yang bertaubat.
Ibadat pada malam Nisfu Syaaban :

Ibadat yang khusus dilakukan pada malam itu ialah:

1.  Sholat Sunah Khoir
2. Membaca Surat Yasin 3x dan al-Quran. Kalau bisa menghabiskan
    semuanya, sekurang-kurangnya membaca Al An-am.
3. Banyak beristighfar kepada Allah.
4. Bertasbih, bertahlil, bertakbir dan membaca berbagai doa dan
    zikir yang ma’thur.

Kita mesti ingat bahwa Allah swt sentiasa membuka pintu taubat bukan pada malam Nisfu Syaban saja bahkan ia sentiasa terbuka waktu pagi dan petang, siang dan malam.

Peristiwa yang paling bersejarah pada bulan Syaban :

Peristiwa pertukaran kiblat. Allah swt telah mengarahkan Rasul-Nya memindahkan kiblat shalat dari masjid al-Aqsa di Bait al-Maqdis ke Kaabah di Mekah.

Dalam satu hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim oleh seorang sahabat al-Bara’ bin Azib dijelaskan maksudnya: ”Selepas Rasulullah sampai ke Madinah al-Munawarah, baginda dan para sahabat shalat ke arah kiblat Baitul Makdis selama lebih kurang enam belas atau tujuh belas bulan. Selepas itu barulah diturunkan wahyu menyuruh Nabi saw berkiblat kearah Kabah di Mekah.

Peristiwa pertukaran kiblat berlaku di dalam masjid Qiblatain. Perintah pertukaran kiblat berlaku ketika Rasulullah sedang shalat Asar. Pertukaran kiblat menjadi isu besar di Madinah. Orang Yahudi mengambil kesempatan menabur fitnah mempertanyakan dakwah Rasulullah saw. Lalu diturunkan ayat 142 Surah al-Baqarah.

Maksudnya: Akan berkata orang-orang yang kurang akalnya: ”Apakah yang memalingkan mereka (umat Islam) dari kiblat mereka (Baitul Maqdis) yang dahulunya mereka telah berkiblat kepadanya. Katakanlah: ”Kepunyaan Allah timur dan barat, dia memberi petunjuk kepada sesiapa yang dikehendaki-Nya ke jalan yang lurus.

Hikmah : Peristiwa ini berlaku pada tahun kedua Hijrah pada bulan Syaaban. Kebenaran daripada Allah swt untuk kembali berkiblatkan Kaabah adalah contoh doa Rasulullah yang dikabulkan oleh Allah swt. Ini karena Rasulullah saw sudah lama mengangkat tangannya berdoa dan memandang ke langit meminta pertukaran kiblat ke Ka’bah. Permintaan Rasulullah tersebut telah diperkenankan oleh Allah swt pada bulan Syaaban.



Malam Nisfu Sya’ban

Malam 15 Syaban atau lebih dikenal dengan malam Nisfu Syaban adalah satu malam yang sunah dirayakan dalam syariat Islam karena ia merupakan malam yang paling mustajab dan penuh rahmat.

Malam Nisfu Syaban ini sabaiknya kita hidupkan malam dengan membaca Surah Yaasiin tiga kali selepas sembahyan fardhu Maghrib. Dan setiap kali lepas membaca Yaasiin akan dibaca doa. Pada bacaan Yaasiin pertama diniatkan dengan memohon panjang umur, pada bacaan kali kedua diniatkan dengan memohon agar dijauhkan dari bala dan pada bacaan ketiga diniatkan memohon murah rezeki yang halal. Cara lain ialah menghidupkan malam nisfu Syaaban dengan membaca zikir, mawlid dan Al Quran.


Doa Malam Nisfu Syaaban

Artinya : Allahumma Ya Allah Ya Tuhan yang memiliki Karunia, dan tiada siapa mengkaruniakan kepada-Nya, Ya Tuhan yang memiliki Kemuliaan dan Kebesaran, Ya Tuhan yang memiliki Karunian, tiada Tuhan yang disembah dengan sebenar-benarnya dalam wujud ini melainkan Tuhan hamba saja, tempat sandaran hamba-hamba Tuhan yang memohon perlindungan, dan tempat perlindungan hamba-hamba Tuhan, yang mohon keselamatan, dan tempat keselamatan hamba-hamba Tuhan yang di dalam ketakutan.

Kiranya Tuhan hamba telah ada menulis akan hamba di sisi Tuhan hamba dalam Lauh Mahfudz, akan seorang yang celaka, maka hamba mohon akan hapuskan daripada hamba nama kecelakaan itu, dan mohon tetapkan hamba di sisi Tuhan hamba akan seorang yang berbahagia.

Dan kiranya Tuhan hamba telah ada menulis akan hamba di sisi Tuhan hamba dalam Lauh Mahfudz akan seorang yang dicegah dari kebajikan, dan seorang yang disempitkan rezeki hamba, maka hamba mohon hapuskan daripada hamba, dan mudahkan rezeki hamba, dan hamba mohon tetapkan hamba di sisi Tuhan hamba, akan seorang yang berbahagia dan seorang yang ditaufikkan dengan kebajikan kerana bahwasanya Tuhan hamba telah berfirman dalam kitab yang telah Tuhan hamba turunkan (Al Quran) maksudnya : “Allah Taala menghapuskan apa yang Dia hendak hapuskan, dan Dia tetapkan apa yang Dia hendak tetapkan dalam suatu kitab dan di sisinya Loh Mahfudz.”


Agenda Syaban :

15 Sya’ban  : Laylat al-Bara’ah, malam pertengahan (nisfu) Syaban
26 Sya’ban 1340 H/21 April 1922  Lahirnya Syekh Muhammad
Nazim Adil al-Haqqani QS
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...