Adab Memasuki Bulan Sya'ban dan Adab Harian di Bulan Sya’ban
Maulana Syaikh Muhammad Hisyam Kabbani qs
Bismillahir Rohmaanir Rohim
Ketika
bulan sabit pertanda datangnya bulan Syakban mulai terlihat, murid
melakukan mandi (ghusl) dan menyambut datangnya bulan ini dengan
melakukan Salat Sunnat Wudu 2 rakaat. Kemudian berdiri menghadap kiblat,
baca selawat sebanyak 100 kali. Perbuatan ini diulangi setiap hari
hingga berakhirnya bulan Syakban.
Hindari keramaian dan
lakukan adab Tarekat Naqsybandi Haqqani di sepertiga akhir dari malam
hingga matahari terbit dan atau antara Salat Asar dan Magrib dan/atau
antara Salat Magrib dan Isya. Niat : Nawaytu ‘l-arba’in, nawaytu
‘l-`itikaf, nawaytu ‘l-khalwah, nawaytu ‘l-`uzlah, nawaytu ‘r-riyadhah,
nawaytu ‘s-suluk, lillahi ta’ala fii haadzal-masjid (atau fii
haadzal-jaami`).
Aku berniat 40 (hari mengasingkan diri),
aku berniat untuk beritikaf, aku berniat khalwat, aku berniat
mendisiplinkan (ego), aku berniat mengadakan perjalanan di jalan Allah
SWT, demi Allah SWT di masjid ini.
Awrad Harian ( Dzikir Harian )
Kalimat Syahadat :
Asyhadu an la ilaha illal Lah wa ash-hadu anna Muhammadan ‘Abduhu wa Rasuluhu 3x
Mohon ampunan : Astaghfirullah 70x
Surat al Fatiha 1x
Amanar Rasul 1x
Surat al Ikhlas 11x
Surat al Inshirah 7x
Surat al Falaq 1x
Surat an Nas 1x
La ilaha illa-Lah 9x La ilaha illa-Lah Muhammadun Rasul Allah 1x
Salawat Nabi : Allahuma salli ‘ala Muhammadin wa ala ali Muhammaddin wa salim 10x
Ihda (menghadiahkan dan persembahan pahala ) 1x
Allahu Allahu Allaahu Haqq 3x. Surat al Fatiha 1x
Dzikir Tambahan :
Allah, Allah 1500x
Salawat Allahuma salli ‘ala Muhammadin wa ala ali Muhammaddin wa salim 100x
Bacaan Quran 1 juz Quran atau Surah al Ikhlas 100x
Satu
bab Dala’il al-Khayrat (sebagai bagian dari awrad harian) Atau Salawat :
Allahuma salli ‘ala Muhammadin wa ala ali Muhammaddin wa salim 100x
Laa ilaa ha illallaah 100x
Astaghfirullaahal “Azhiim wa atuubu ilaih 100x
Ya Latif 100x
Bismillaahir Rahmaanir Rahiim 100x
Hasbiyallaahu wa ni’mal wakil 100x
Tambahan khusus Bulan Syaban :
Baca Surat al-An’am (1x setiap hari)
Selawat 2.000 kali (sebagai tambahan dari awrad harian)
Selawat 100 kali (dilakukan ketika berdiri menghadap kiblat dan didedikasikan kepada Nabi SAW).
Penjelasan Dzikir Harian Untuk Tingkat Persiapan
Murid
yang telah siap harus menambah dhikir selain yang disebut diatas :
Tingkatkan jumlah pengulangan asma “Allah” dari 1500 sampai 2500 dengan
lidah dan tambahkan 2500 dengan hati, sambil berkosentrasi pada Nama di
atas.
Tingkatkan jumlah bacaan shalawat Nabi dari 100 sampai 500
kali pada hari Senin, Kamis, dan Jum’at - serta 300 kali pada hari-hari
lainnya.
Membaca Sayyid as-salawat yang dilakukan sebelum do’a persembahan” (Ihda )
Setelah
Ihda, bacalah Fatiha, kemudian ulangi Allah Hu Allah Hu Allah Hu Haqq
tiga kali, bayangkan diri Anda di antara Tangan-Tangan Sang Pencipta.
Juga
penambahan jumlah pengulangan Asma Allah sampai 5000 diucapkan dengan
keras dan 5000 kali dalam hati, kemudian tingkatkan bacaan shalawat Nabi
dari 300 sampai 2000 setiap hari Senin, Kamis dan Jum’at serta 1000
kali di 4 hari sisanya.
Penjelasan Mengenai Amalan Harian
1. Syahadat atau Pengakuan Keimanan
Kalimat
Syahadat di baca sebanyak tiga kali. Yang pertama untuk diri sendiri,
bayangkan Kehadiran Nabi dan katakan dalam hati,” Wahai guruku; wahai
Nabi Allah ! engkaulah saksiku; Tuhan adalah saksiku; seluruh malaikat
adalah saksiku, para Sahabat dan para Nabi adalah saksiku; setiap hamba
ciptaan adalah saksiku dan Syaikhku adalah saksiku.”
Syahadat
kedua atas nama diri sendiri, para orang tua, anak-anak Anda, keluarga
Anda, saudara perempuan dan laki-laki, teman-teman, tetangga dan relasi
serta seluruh umat muslim.
Syahadat yang ketiga di atas namakan untuk kaum yang kafir dengan niat agar mereka menjadi mukmin.
ALLAHU…ALLAHU…ALLAHU…HAQQ
Duduk
di atas lutut, konsentrasikan pada hubungan dengan syaikh Anda, lalu
dari Syaikh menuju Nabi, kemudian dari Nabi menuju Hadirat Ilahiah.
Ayat Keimanan Rasul (Ayat Amanar-Rasul 2:285-286)
Aamana
ar-rasuulu bimaa unzila ilayhi min Rabbihi wa ‘l-mu’minuun. Kullun
aamana Billaahi wa malaa’ikatihi wa kutubihi wa rusulihi laa nufarriqu
bayna aahadin min rusulihi wa qaaluu sam’inaa wa atanaa ghufraanaka
Rabbanaa wa ilaykal masiir.
Laa yukallif-Ullaahu nafsan
illa wus’ahaa. Lahaamaa kasabat wa ‘alayhaa maaktasabat. Rabbanaa laa
tuu’aakhidhnaa in nasiinaa aw akhtaanaa. Rabbanaa wa laa tahmil ‘alaynaa
isran kamaa hamaltahu ‘alaa alladhiinaa min qablinaa. Rabbanaa wa laa
tuhamilnaa maa laa taaqata lanaa bihi w’afu ‘anaa waghfir lanaa
warhamnaa Anta Mawlaanaa f’ansurnaa ‘alaa l qawm il-kafiiriin.
Rasul
telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, dan
juga orang-orang yang beriman. Semuanya beriman pada Allah, para
malaikat, kitab-kitab-Nya, dan para Rasul-Nya, seraya berkata,” Kami
tidak membeda-bedakan antara seseorang (dengan yang lain) daripada
Rasul-Rasul-Nya.”
Dan mereka berkata,”kami dengar dan kami
taat. Ampuni kami wahai Tuhan kami dan kepada Engkaulah kami kembali.”
Allah tiada membebani seseorang melainkan sesuai kesanggupan. Baginya
(pahala)apa yang dia kerjakan.
(Mereka berdoa) “Wahai
Tuhan kami, janganlah Engkau siksa kami jika kami lupa atau
bersalah.Wahai Tuhan kami, jangan Engkau pikulkan pada kami beban berat,
sebagaimana Engkau pikulkan pada orang-orang sebelum kami. Jangan
Engkau pikulkan kami beban yang kami tak sanggup memikulnya. Maafkan
kami, ampuni kami, rahmatilah kami, Engkaulah Pelindung kami, maka
tolonglah kami dari kaum kafir.”
Siapa yang membaca ayat
ini akan meraih maqam tinggi dan posisi yang agung. Dia akan menerima
tingkatan keselamatan dunia dan akhirat. Dia akan memasuki lingkaran
keamanan dalam Hadirat Ilahi, Maha Kuasa dan Maha Agung. Ia akan meraih
semua maqam-maqam dalam Thareqat yang paling mulia Naqsybandi. Dia akan
menjadi pewaris rahasia Nabi dan para Awliya, dan akan tiba pada maqam
Bayazid al Bistami, Imam Thareqat ini, yang mengatakan,” Saya adalah
Kebenaran juga.” Inilah manifestasi keagungan ayat ini, dan juga
ayat-ayat lain. Grandsyaikh Khalid al Baghdadi menerima penglihatan dan
rahasia ayat ini, melaluinya Tuhan menganugerahi keistimewaan di waktu
beliau.
SURAT AL FATIHA ( 1x )
Bacalah
surat al Fatiha dengan niat pertama untuk turut serta dalam Tajali
keberkahan atas surat itu saat diturunkan di Mekkah. Pembacaan yang
kedua diniatkan untuk dibaginya rahmat atas surat itu saat diturunkan
kedua kalinya di Madinah. Grandsyaikh Abdullah Faiz ad Dghestani qs
berkata,”Jika seseorang membaca surat al Fatiha, dia tidak akan
meninggalkan dunia ini tanpa meraih barakah suci yang tersembunyi di
balik makna surat al Fatiha yang memungkinkan dia untuk meraih
tingkatan kepasrahan pada Tuhan, Yang Maha Kuasa lagi Maha Mulia. Berkah
surat al Faatiha yang Tuhan anugerahkan ketika diberikan pada Nabi
tidak akan berhenti, dan akan abadi bersama siapapun yang membacanya.
Tak
seorangpun yang tahu berapa banyak berkah di sana kecuali Tuhan dan
para utusan-Nya. Siapa yang membacanya tanpa niat ini akan menerima
karunia suci secara umum, namun siapapun yang membaca surat fatiha,
dengan niat untuk berbagi Rahmat Ilahi akan mencapai sebuah posisi yang
tinggi dan sebuah tingkatan mulia. Surat ini mengandung maqam-maqam
yang tidak terbatas dan tak terhitung dalam Pandangan Tuhan, Yang Maha
Perkasa lagi Maha Tinggi.
Sayyid as-Salawat (Sultan Salawat)
‘alaa ashraf il-‘alamina Sayyidina Muhammadini salawaat
‘ala afdal il-‘alamina Sayyidina Muhammadini salawaat
‘ala akmal il-‘alamina Sayyidina Muhammadini salawaat
Salawaatullaahi
ta’alaa wa malaa’ikatihi wa anbiyaa’ihii wa rusulihi wa jami’i khalqihi
‘ala Muhammadin wa ‘ala ali Muhammad, ‘alayhi wa ‘alayhimu ‘s-salam wa
rahmatullahi ta’ala wa barakatuhu, wa radi-Allahu tabaraka wa ta’ala
‘an sadatina ashabi Rasulillahi ajma’in, wa ‘an it-tab’iina bihim bi
ihsan, wa ‘an il-a ‘immat il-mujtahidin al-madin, wa ‘an il-‘ulama
il-muttaqqin, wa ‘an il awliya ‘is-salihin, wa ‘am-mashayikhina
fit-tariqati ‘n-Naqshbandiyyati ‘l-‘alliya, qaddas-Allahu ta’ala
arwahahum uz-zakiiyya, wa nawwar Allahu ta’ala adrihatahumu
‘l-mubaaraka, wa a’ad-Allahu ta’ala ‘alayna min barakaatihim wa
fuyuudatihim daa’iman wa ‘hamdulillahi Rabb il-‘alamin, al-Fatiha
Arti :
Bagi yang termulia, pemimpin kami Muhammad saw (salawat)
Bagi yang terpilih diantara seluruh ciptaan, pemimpin kami Muhammad saw, (salawat)
Bagi yang paling sempurna di antara seluruh ciptaan, pemimpin kami Muhammad, (salawat)
Keberkahan
Allah Yang Maha Mulia, atas para malaikat-Nya, atas para nabi-Nya, atas
para rasul-Nya, atas seluruh ciptaan bagi Muhammad dan seluruh
keluarganya, semoga kedamaian dan rahmat Allah serta Berkah-Nya atas
beliau dan mereka.
Semoga Allah, Yang penuh berkah dan
Maha Tinggi berkenan pada setiap Pimpinan kami, Sahabat Rasul Allah, dan
siapapun yang mengikuti mereka dengan sempurna, dan para Mujtahid, dan
para ulama, dan para awliya yang sholeh, dan para Syaikh kami thareqat
yang mulia Naqsybandi, Semoga Allah menyucikan jiwa mereka yang murni,
dan menerangi makam mereka yg penuh berkah. Semoga Allah mengembalikan
pada kita berkah-Nya dan terus berlimpah mengalir. Pujian milik Allah
dan Tuhan semesta alam, al-Fatiha.
DEDIKASI, HADIAH PERSEMBAHAN ( IHDA )
Allaahumma
balligh thawaaba maa qaraa’naahuu wa nuura maa talawnaahuu hadiiyyatan
waasilatan minnaa ila ruuhi Nabiiyyiinaa Sayyidinaa wa Mawlaanaa
Muhammadin salla-llaahuu ‘alayhi wa sallam. Wa ilaa arwaahi ikhwaanihi
min al anbiyaa’i wa ‘l-mursaliin wa khudamaa’i sharaa’ihim wa ila
arwaahi al-a’immati al-arba’ wa ila arwaahi mashaykhinaa fit-tariiqati
an-naqsybandiiyyati al-‘aliyyati khaassatan ila ruuhi Imaam
at-tariiqati wa ghawth il-khaliiqati Khaajaa Bahauddin an-Naqshband
Muhammad al-Uwaisi al-Bukhari wa hadarati ustadhinaa Mawlanaa Sultaan
al-awliyaa Syaikhunaa ash-syaikh ‘Abd Allaah al-Faiz ad-Daghestani wa
sayyidunaa ash-Syaikh Muhammad Nazim al-Haqqani Mu’ayyaddin, Mawlana
Syaikh Muhammad Hisyam Kabbani, wa sa’iri saadaatinaa was-siddiqiyyina
al-Fatiha
Ya Allah ! limpahi kami dengan karunia atas apa
yang kami baca, dan cahaya dari apa yang kami baca, sebagai pemberian
dan hadiah dari kami bagi ruh Nabi kami Muhammad, dan ruh para Nabi, dan
para awliya; khususnya ruh Imam thareqat dan ghawth bagi dunia, Khaja
Bahauddin an-Naqshband Muhammad al-Uwaisi al-Bukhari, dan guru serta
pimpinan kami, Sultanul Awliya, Syaikh Abdullah al-Faiz ad-Daghestani,
dan pimpinan kami Syaikh Muhammad Nazim al-Haqqani dan Mawlana Syaikh
Hisyam Kabbani dan bagi seluruh pimpinan kami dan kaum siddiqin…
al-Fatiha
( Ihda ini merupakan persembahan pahala atas
pembacaan do’a-do’a sebelumnya yang ditujukan pada Nabi saw dan bagi
para Syaikh Thariqat Naqsybandi. Ihda bagai kita membungkus amalan kita
kemudian kita hadiahkan ).
SURAT AL IKHLAS ( QS : 112 )
Siapa
yang membaca surat ini akan menerima Karunia Ilahiah dari dua Asma
Agung, Yang Esa ( al-Ahad), dan Yang Abadi ( as-Samad ). Siapa yang
membacanya pasti menerima bagian dari Asma-asma ini.
SURAT AL INSHIRAH ( QS : 94 )
Setiap
huruf dan setiap ayat quran ada sebuah manifestasi Ilahiah, yang
berbeda satu sama lain. Siapa yang membaca satu ayat atau satu huruf
akan meraih Karunia Ilahiah yang khas dimiliki oleh surat atau huruf
tersebut. Jika ada yang membaca surat ini maka dia akan menerima karunia
dan kebaikan yang terkandung di dalamnya. Siapa yang ingin menerima
kebaikan-kebaikannya, harus selalu menjaga doa-doa ini beserta
kewajiban-kewajiban lain. Maka dia akan mencapai kehidupan yang hakiki
dan abadi.
SURAT AL FALAQ ( 113 ) DAN SURAT AN-NAS ( 114 )
Kenyataan
akan rahasia dan keseluruhan yang sempurna dalam Asmaul Husna
berhubungan dengan dua surat ini. Karena keduanya menandai akhir dari
Quran, maka keduanya dihubungkan dengan kelengkapan dalam karunia
Ilahiah. Dengan ayat-ayat ini, para guru Thareqat yang paling mulia
Naqsybandi menjadi samudra-samudra ilmu dan makrifat. Grandsyaikh
Abdullah ad-Daghestani mengatakan :
Sekarang kalian telah
mencapai awal, dimana setiap ayat, huruf dan surat dalam quran
memiliki manifestasi istimewa yang tidak sama satu dengan lainnya.
Dengan alasan itulah Nabi bersabda : “ Aku tinggalkan 3 hal untuk umatku
– kematian yang akan membuat mereka takut, mimpi yang benar yang akan
memberi mereka kabar baik, dan Qur’an yang akan berbicara pada mereka.”
Dengan
sarana Quran, Tuhan akan membuka gerbang-gerbang karunia Ilahiah di
Masa Akhir, sebagaimana di turunkannya pada masa Nabi, para Sahabat,
masa Khalifa dan di masa para Awliya.
Tingkatan-tingkatan
ini dan Karunia Ilahiah terikat bersama dan tak bisa dipisahkan, jadi
segala kekurangan dalam latihan spiritual otomatis akan menjadikan
berkurangnya Karunia Tuhan yang dikirim. Sebagai contoh, jika kita ingin
membasuh tangan , kita hanya perlu menunggu di depan kran dimana air
akan keluar. Jika pipa terputus sehingga air keluar sebelum sampai ke
kran, berapa lamapun kita menunggu, air tidak akan mengalir keluar. Jadi
kita harus menutup segala kekurangan dalam dzikir kita sampai kita
menerima Karunia Ilahiah.
Praktik-praktik spiritual ini
diperuntukkan bagi tiga tingkatan murid yang harus dilakukan sekali
setiap 24 jam, bersama dengan kewajiban lainnya, menurut syariat. Segala
hal yang dibawa oleh Nabi dapat ditemukan dalam praktik spiritual ini.
Inilah cara agar seorang hamba mencapai kunci Kedekatan dengan Tuhan,
Yang Maha Kuat dan Maha Tinggi. Dengan cara seperti itulah Nabi-nabi,
para rasul, dan awliya sampai pada Tuhan mereka. Dan dengan sarana
praktik spiritual inilah kita menggapai semua maqam dalam thareqat yang
paling mulia ini.
Guru-guru dalam thareqat Naqsybandi yang
paling mulia ini mengatakan bahwa siapapun yang mengklaim bahwa dia
telah bergabung dengan salah satu thareqat lain atau dengan thareqat
yang paling mulia Naqsyabandi, namun belum pernah mengamalkan suluk
paling tidak sekali dalam hidupnya, maka dia seharusnya malu karena
menghubung-hubungkan dirinya dengan mereka yang berada di jalur itu.
Di zaman kami, Grandsyaikh Abdullah ad-Daghestani mengatakan
“Siapapun
orang yang di akhir hidupnya ingin mendapat tingkatan tinggi dan
sebuah maqam yang mulia dan mendapatkan apa yang biasanya didapat oleh
para murid dengan perantaraan khalwat dan latihan spiritual harus terus
melakukan praktik spiritual dan dzikir pada Allah”.
Dengan
hal ini sebagai landasan, kita telah mengatur jalan menuju maqam-maqam
yang lebih tinggi-yang terbangun atas dasar ini. Murid harus tahu apakah
dia gagal meraih maqam mulia dan tingkatan tinggi di dunia ini karena
kurangnya usaha, maka dia tidak seharusnya diasingkan dari dunia ini,
namun Syaikh akan membuatnya berhasil dan membuka maqamnya, bisa jadi di
sepanjang hidupnya atau di saat tujuh nafas terakhir selama sakaratul
maut.
Siapapun yang mengerjakan amalan-amalan spiritual
lalu melakukan perbuatan yang dilarang agama, diibaratkan seseorang yang
membangun rumahnya di tepi karang curam, lalu rumahnya jatuh. Jadi kita
harus selalu waspada akan segala perbuatan, mengukurnya apakah ada yang
dilarang atau diijinkan, apakah Tuhan akan murka dengannya atau tidak.
Dan
kita harus berpikir keras akan setiap perbuatan, yang puncaknya agar
kita tidak melakukan sesuatu yang di haramkan, yang dapat melemahkan
pondasi kita. Karena Nabi bersabda dalam hadistnya : “Satu jam
bertafakkur lebih baik dari tujuh puluh tahun beribadah.” Kita harus
melaksanakan semua perbuatan dengan cara yang benar, artinya tanpa ada
campuran amalan yang terlarang.
Atas dasar ini, Tuhan
membagi satu hari dalam tiga bagian : delapan jam untuk ibadah, delapan
jam untuk mencari nafkah, delapan jam untuk tidur. Siapapun yang tidak
mau menerima pembagian ini ditunjukkan dalam Hadist berikut : “ Siapa
yang tak menentu hidupnya, maka dia akan tak menentu pula dalam neraka.”
Siapa
yang menuruti kemauannya sendiri dan selalu beralasan, dia tidak akan
maju. Siapa yang ingin meraih maqam-maqam yang mulia,
tingkatan-tingkatan, dan tahap-tahap yang generasi sebelumnya telah raih
– dengan cara perenungan dan latihan-latihan spiritual lainnya harus
terus mengingat Tuhan sepanjang hari. Siapa yang melakukan amalan
teratur dalam latihan spiritual ini akan meraih Hakikat Air Kehidupan,
yang dengannya dia akan berwudhu. Dia akan mandi di dalamnya,
meminumnya, dan dengannya dia akan mencapai tujuannya.
Mungkin
saja ada murid yang mengaku bahwa dirinya telah 30 tahun dalam thareqat
ini namun tidak meraih dan melihat apapun. Maka seharusnya dia menengok
kembali segala perbuatannya selama beberapa tahun. Berapa banyak
kekurangan yang dilakukannya ? Ketika dia melihat keburukan, seharusnya
segera menjauhkan diri, agar sampai pada Tuhan, Yang Maha Kuat dan Maha
Mulia.
Jika murid meninggalkan kewajiban harian yang
Syaikh perintahkan, maka dia sudah tentu tidak mampu membuat kemajuan.
Dan dia tidak akan mampu menjaga tingkatan yang sebelumnya telah
diraih. Tidak ada Nabi yang meraih tingkat kenabian, atau tak seorang
wali yang meraih tingkat kewalian, atau tak seorang berimanpun yang
meraih tingkat keimanan tanpa menggunakan waktunya bagi dzikir
hariannya.
Wa min Allah at Tawfiq
Sultan Awliya Mawlana Syaikh Muhammad Nazim Adil Haqqani qs dan istri beliau Hajah Aminah qs (salah satu wali arbain)