Tuesday, September 4, 2012

Perdagangan Untuk Akhirat


Perdagangan Untuk Akhirat
Shaykh Mehmet Adil qs
25 Agustus 2012 - Lefke Cyprus


Kami akan berbicara tentang perdagangan didunia, ada kalanya kita rugi dan ada kalanya kita memperoleh keuntungan. Ini semua kehendak Allah. Seseorang kadang mengklaim bahwa dunia sekarang milikku, aku memliki rumah mewah, yacht (kapal mewah), bank, mobil, semua berada ditanganku, tetapi tiga hari kemudian dia bangkrut dan melarikan diri dari negerinya.

Jika kalian bertanya, bagaimana kita dapat berdagang tetapi tidak pernah rugi? Ada perdagangan yang tidak pernah merugi, yaitu berdagang untuk akhirat. Jika dia menjadi seorang mukmin, yaitu dia mengerjakan seluruh perintah Allah (swt) dan taat kepadaNya dan kepada nabi (saw), maka dia akan selalu membuat keuntungan. Dan jika mukmin ini adalah orang yang kaya, maka dia adalah orang yang sangat beruntung dan jika dia orang miskin, dia tetap beruntung, jika dia dapat bersabar menerima apa yang Allah berikan kepadanya. Keduanya tak pernah merugi.

Dunia ini sementara dan akhirat selamanya. Jika kalian tak pernah beribadah didunia ini sesungguhnya kalian seorang pecundang, seorang yang merugi. Tetapi zaman ini, banyak manusia yang tidak memiliki iman, mereka tidak memiliki kepercayaan kepada Allah, meskipun mereka sangat kaya dan sehat, mereka selalu dalam keadan merugi. Sementara orang miskin yang memiliki iman, dengan senantiasa beribadah kepadaNya, meskipun dia sakit dan tidak memiliki harta benda mereka selalu dalam keadaan beruntung disisi Allah.

Ada keuntungan dalam segala hal yang kita kerjakan bagi mereka yang beriman, dan orang yang beriman harus berusaha untuk membuat Allah swt senang dan ridho kepadanya. Dizaman Nabi (saw) ada seorang sahabat yaitu Abu Talha (ra), dia salah seorang sahabat besar. Dia memilki seorang anak kecil yang sedang sakit parah dan dia tak dapat melakukan apapun ketika anaknya dalam sakaratul maut, sehingga dia keluar sebentar untuk mencari obat dan ketika malamnya dia kembali anaknya sudah meninggal dunia.

Ketika dia pulang dia bertanya kepada istrinya, "Apa yang terjadi dengannya?" Istrinya menjawab, "Anak kita telah beristirahat dengan tenang dan damai, dan tak ada kedamaian dalam istirahatnya yang lebih sempurna dari kepergiannya". Dan Abu Talha (ra) tidak memahami apa yang dikatakan istrinya. Istri para sahabat mereka adalah orang-orang yang tulus dan mereka tak pernah berbohong. Abu Talha (ra) begitu sedih dan sangat menderita.

Malamnya istrinya memasak makanan dan membuat pesta selamatan agar suaminya tidak bersedih, dan setelah selamatan kemudian mereka tidur bersama (berhubungan badan). Istri Abu Talha (ra) dimalam itu mimpi bertemu dengan Nabi Muhammad (saw). Keesokan harinya Abu Talha (ra) menceritakan kronologi kejadian itu kepada Nabi Muhammad (saw) dan bertanya kepada Nabi (saw), "Bagaimana istriku bisa seperti itu menghadapi kematian anakku?"

Kemudian Nabi (saw) berdoa untuk mereka berdua untuk mendapat keturunan lagi yang baik sebagai pengganti. Dan tak lama kemudian istrinya hamil dan ketika dia melahirkan anaknya, Abu Talha (ra) berkata kepada istrinya, "Jangan kau susui dia dahulu sebelum aku membawa bayi ini kepada Nabi (saw). Kemudian dia membawa bayi lelakinya kepada Nabi (saw) dan juga membawa beberapa kurma. Dia berkata kepada Nabi (saw), "Ini bayiku yang baru lahir". Nabi (saw) bertanya kepadanya, "Apa yang kamu bawa? Tentu saja Nabi (saw) mengetahui bahwa Abu Talha membawa kurma. Nabi (saw) mengambil satu butir kurma dan mengunyahnya kemudian beliau (saw) mentalkin dan mengusapkan kebibir si bayi dan memasukkan kurma yang sudah dikunyahnya kemulut si bayi. Dan memberinya nama Abdullah.

Dan anak itu dikemudian hari menjadi Ulama Besar dan Hafidz Quran dan darinya kemudian dia memilki 9 anak yang semuanya Ulama Besar Hafidz Quran. Hafidz adalah seseorang yang hapal seluruh Quran dan mengetahui ilmu tentang Al-Quran. Jadi ketika kalian memiliki bayi, sebelum kalian menyusuinya bawalah dahulu kepada Nabi (saw), karena Allah (swt) Dia adalah Maha Pemberi. Meskipun awalnya tidak mudah bagi Abu Talha (ra) ketika dia ditinggal mati anaknya yang masih kecil. Tetapi istri Abu Talha (ra), dia mengetahui keberuntungan yang akan didapatnya kemudian hari.

Hari ini sangat sulit untuk dapat menerima kematian seorang anak yang masih muda seperti kesabaran istri Abu Talha (ra) menghadapinya, karena iman manusia saat ini sangat lemah. Berbagai penderitaan menimpa manusia, ada yang menderita sakit parah, ada yang tidak memiliki pekerjaan, perceraian, dan berbagai musibah yang terjadi, besar atau kecil, semuanya berasal dari Allah swt. Dan jika kalian bersabar, maka akan ada pahala untuk kesabaranmu. Segalanya telah tertulis di account kalian, rekening kalian akan bertambah banyak jika kalian mampu bersabar dan kalian akan mendapat kedudukan yang tinggi di akhirat kelak. Insya Allah.

Bagi mereka yang memilki banyak uang dan memilki kekayaan, jika merejka bersyukur kepada Allah dengan rajin beribadah kepadaNya, maka tentu saja mereka orang yang sangat beruntung. Keuntungannya akan selalu bertambah dan bertambah. (Syaikh Mehmet Sultan qs, 25 Agustus 2012).

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...