Tuesday, March 5, 2013

Tasbih Khusus Seekor Katak


Tasbih Khusus
Mawlana Syekh Muhammad Hisyam Kabbani (qs)
Khotbah Jumat Masjid ash-Shiddiq, Fenton, MI - 1 Maret 2013





Wahai Mukmin!  Orang-orang yang beragama Islam, di mana pun kalian berada.  Alhamdulillah bahwa Allah (swt) telah mengaruniai kita dengan nikmat di mana bila kita terus beribadah, bersujud siang dan malam, itu tidak cukup untuk berterima kasih atas segala nikmat yang telah dikaruniakan kepada kita, khususnya menjadikan kita sebagai ummat an-Nabi (saw).

Dia berfirman, “kuntum khayra ummatun ukhrijat lin-naas... kalian adalah umat terbaik yang Allah kirimkan di antara manusia.  Sejak saat Allah menciptakan kita, Dia memilihkan kita dan membusanai kita dengan Rahmat-Nya dan dengan cinta kepada Allah dan Nabi-Nya (saw) dan menjadikan kita bagian dari kelompok itu, kelompok terbaik, umat terbaik yang pernah dikirimkan bagi manusia.  Itu artinya setiap orang dari ummat an-Nabi (saw), Allah telah membusanainya dengan sesuatu yang istimewa yang tidak diberikan-Nya kepada orang lain.   Itu artinya dikirimkan kepada umat manusia, sehingga tidak ada umat yang lebih baik daripada ummat an-Nabi (saw).

Dan Sayyidina Adam (as) mengetahui hal itu.  Allah berfirman kepadanya bahwa jika Sayyidina Muhammad (saw) datang di masanya, ia pasti akan mengikutinya.  Dan Nabi (saw) bersabda, “Sayyidina Adam (as) dan siapapun selainnya berada di bawah benderaku pada Hari Kiamat.”  Itu mempunyai makna yang besar dalam penafsirannya, dan itu berarti secara harfiah kita berada di bawah benderanya dan termasuk Sayyidina 'Isa (as). Jadi apa yang harus kita lakukan?  Kita harus bersyukur kepada Allah (swt).

Kita harus mengucapkan, “Syukran lillaah, syukran laka yaa Allah.”  Jika kita bersyukur kepada-Nya, kita akan mendapat lebih banyak, sebagaimana firman Allah, “La'in syakartum la aziidannakum.”  Jika kita bersyukur kepada-Nya untuk makanan, apakah Dia akan memberikan lebih banyak?  Ya, dan jika kalian bersyukur atas rezeki yang diberikan, Dia akan memberi kalian lebih banyak.  Dan jika kita bersyukur atas kesehatan kita, Dia akan membuat kalian lebih sehat.  Dan jika kalian bersyukur kepada-Nya yang telah menjadikan kalian sebagai bagian dari ummat an-Nabi (saw), maka Dia akan menjadikan kalian sebagai bintang dalam gelapnya malam.  Bagaimana bintang-gemintang itu bersinar, kalian akan bersinar di Surga. “Aku akan membusanai kalian dengan busana yang belum pernah diberikan kepada orang lain.”

La'in syakartum la aziidannakum, ketika Allah berfirman, “Aku akan menambahkannya untukmu,” menambahkan apa?  Lebih banyak makanan?  Kalian bisa bertahan dengan sedikit makanan.  Lebih banyak rezeki?  Kita bisa bertahan dengan lebih sedikit rezeki.  Lebih sehat?  Kalian bisa bertahan dengan sedikit sehat, dan kalian hidup, lalu kalian menuju kehidupan lainnya.  Lalu apa yang membusanai kita?  Dia membusanai kita dengan Ma laa `aynun ra'aat, wa la udzunun sami`at... tidak ada mata yang pernah melihatnya dan tidak ada telinga yang pernah mendengarnya dan belum pernah dibayangkan sebelumnya.  Itu untuk ummat an-Nabi (saw).

Dan itulah sebabnya Nabi (saw) bersabda, rawahu Abu Ya’la fi musnadih, “Tidak ada suatu hari pun di mana seseorang bangun di pagi hari, setiap hari, siapapun, setiap manusia, bangun, dan malaikat akan berteriak, yasrukh, berteriak dan berkata, “ayyuhan-naas, kepada setiap individu manusia, jadi setiap kali seseorang bangun tidur, ada yang berteriak, artinya setiap orang harus mendengar; jika kalian tidak mempunyai telinga untuk mendengar, Nabi (saw) mengatakan apa yang harus kalian lakukan: Ayyuhan-naas, wahai manusia, sabbih al-Malik al-Quddus. Pujilah Raja dari raja-raja, Sultan dari sultan-sultan, Dzat yang tidak ada yang menyerupai-Nya.  Dzat yang memiliki segalanya.  Pujilah Dia, agungkanlah Dia.

Sayyidina Ibrahim (as) berkata, “Yaa Rabbuu, ma jaza au man sabahak, Ya Allah, apa pahala yang Kau berikan bagi orang yang memuji-Mu.   fa awhaa ilayh, Allah mewahyukan kepadanya, laa ya`lam tawiilahu illa rabbu'l-`alamiin.  Tidak ada yang tahu apa yang akan Kuberikan kepada orang itu, kecuali Aku sendiri.  Jadi, bila kita mencuapkan, “Subhanallah, walhamdulillah, wa la ilaha illallah wallaahu akbar,” atau “Subbuuhun qudduusun Rabbunaa wa Rabbul-malaa’ikati war-ruuh”, sekali saja, maka Allah akan membusanai kalian dengan busana yang tidak seorang pun memahaminya.  Jangan katakan ini sesuatu yang terlalu berlebihan, tidak, tidak, ini juga berada dalam batas; jika kalian membandingkannya dengan Kebesaran Allah.  Kebesaran Allah adalah Maha Pemurah (dalam memberi rahmat).  Tidak ada batas bagi Rahmat-Nya.  Jadi setiap kali kalian mengucapkan “Subbuuhun qudduusun Rabbunaa wa Rabbul-malaa’ikati war-ruuh”, kalian memuji-Nya, Allah (swt) membusanai kita dengan rahmat yang tidak terhingga.

Dan Nabi (s) bersabda, “Ada sebuah samudra di mana di sekelilingnya terdapat malaikat-malaikat dari cahaya,” artinya Nabi (s) melihat mereka.   Melihat sebuah samudra di Surga dan di sekelilingnya terdapat malaikat-malaikat.  Mereka menunggangi kuda-kuda dari cahaya.  Di tangan mereka ada tombak surgawi dari cahaya.  Yusabbihuuna hawla al-bahr, mereka memuji Allah (swt) di sekeliling samudra itu.  Wa yaquulun, dan mereka mengucapkan, “Subhanal hayyil ladzi la yamuut” Mahasuci Allah, Dzat yang tidak pernah mati.

Subhanal dzil-Mulki wal-Malakuut, Subhanal dzil `izzati wal Jabaruut. Subhanal hayyil ladzi la yamuut, Subbuuhun qudduusun Rabbul-malaa’ikati war-ruuh.   Apa yang diucapkan oleh malaikat?  Saya ulangi, “Subhanal dzil-Mulki wal-Malakuut, Subhan artinya Mahasuci bagi Dzat yang berada di luar dari apa yang kalian deskripsikan mengenai Dzat-Nya baik di dunia, maupun di Surga, Dia di luar itu, karena tidak ada yang dapat mencakup-Nya, karena Dia mencakup segalanya.  Jadi Dia di luar itu, tunazziah, Maha tinggi dari segalanya.  Dia tidak memerlukan apa-apa; kalian membutuhkan segala sesuatu, tetapi Dia tidak membutuhkannya.  Jadi, itu adalah subhan, salah satu arti dari subhan.

Subhanal dzil-Mulki wal-Malakuut, Mahasuci Dia yang merupakan Pemilik semua kerajaan, di dunia dan langit.  Subhanal dzil `izzati wal Jabaruut. Mahasuci Dia yang memiliki kekuasaan, kehormatan dan Jabaruut, Qahhar, Penguasa dari segala sesuatu.   Subhanal hayyil ladzi la yamuut, Mahasuci Dia yang Maha Hidup dan tidak pernah mati.  Subbuuhun Qudduusun Rabbul-malaa’ikati war-ruuh.  Dia adalah Subbuh, Dia adalah Quddus, Dia adalah Tuhan bagi malaikat dan ruh. 

Barang siapa yang mengucapkannya SATU KALI sehari, atau satu kali dalam sebulan, atau satu kali dalam setahun atau satu kali sepanjang umurnya.  Allah akan mengampuni dosa-dosanya (yaitu orang-orang yang mengerjakan kewajibannya, mukmin, orang-orang yang beriman, muslim, yang melakukan kewajibannya).  Kita semua melakukan kewajiban kita, tetapi kita masih melakukan dosa, kita adalah para pendosa, tidak ada orang yang dapat mengaku bahwa ia tidak mempunyai dosa, kecuali para Nabi.  Mereka maksum, dan begitu pula malaikat.  Jadi, siapapun yang mengucapkannya sekali dalam hidupnya, Allah akan mengampuni dosa-dosanya walaupun jika dosa-dosanya itu sebanyak buih-buih putih di lautan ketika ombak menghantam pantai.  Ombak yang besar ini.

Perhatikan, bayangkan, segala sesuatu harus kalian pikirkan, tafakkur sa`atin khayrun min `ibaadati saba`in sanah. .. berpikir, meditasi, dan merenung (kontemplasi) dan beliau (saw) mengatakan zabad al-bahr, di sini bahr artinya samudra yang tidak mempunyai awal dan tidak ada akhirnya.  Jika kalian melihat samudra, kalian melihat seluruh dunia di kelilingi oleh samudra, itu semua adalah satu lautan tetapi mereka memberikan nama-nama yang berbeda karena daerahnya, tetapi mereka semua adalah satu lautan dan bumi berada di tengahnya.  Di atas Swedia, atau kutub utara, atau kutub selatan, atau Australia, atau Amerika, di atas dan di bawahnya ada samudra.  Dan Timur Tengah, ada samudra-samudra.

Jadi beliau (saw) mengatakan bahkan jika dosa-dosanya itu seperti buih-buih yang muncul dari ombak yang menghantam pantai, kalian melihat buih-buih ini, semuanya dari samudra raksasa yang mengelilingi bumi, berapa banyak ombak yang menghasilkan buih-buih ketika mereka menghantam pantai.  Nabi (saw) bersaba, “Bahkan jika sebanyak itu, Allah (swt) akan mengampuni kalian dari dosa-dosa kalian.”  Dengan mengucapkannya SATU KALI.  Lihatlah betapa Allah Maha Pemurah terhadap umat, sayang pada hamba-hamba-Nya dan betapa Nabi (saw) mencintai umatnya.  Beliau (saw) mengajari kita satu dari apapun yang dimilikinya.  Ada banyak doa al-matsur dari Nabi (saw), doa-doa khusus yang biasa beliau (saw) baca di dalam hidupnya di antara para Sahabat (ra), dan salah satu doanya adalah doa ini.  Jika satu doa saja sudah seperti ini, bagaimana dengan doa-doa yang lainnya.

Wahai Muslim, kuntum khayra ummatin ukhrijat linnaas, Allah menganugerahkan kepada kita untuk menjadi umat terbaik di antara seluruh manusia.  Artinya yang terbaik dari apa yang Allah busanai pada kita.  Dengan doa itu Allah membusanai kita dengan nikmat dan mengampuni dosa-dosa kita.  Bagaimana menurut kalian dengan dua doa sehari atau tiga doa sebulan atau lima doa seperti itu dalam setahun, atau sepuluh doa seumur hidup?  Apa yang kalian dapatkan?  Pikirkan!  Rawahu ad-Daylami, dari Anas bin Malik.

Dan saya tidak akan berpanjang lebar, karena orang-orang sibuk, tetapi saya akan membacakan kisah mengenai Sayyidina Musa (as) dengan seekor katak.  Karena mereka mempunyai perbicangan ini.

Suatu hari, sepanjang malam Nabi Musa (as) berdri memuji dan beribadah kepada Allah (swt).  Saya tidak akan membaca Bahasa Arabnya untuk membuatnya lebih singkat.  Di pagi harinya ketika ia bangun ada sedikit kebanggaan di dalam dirinya karena ia telah beribadah sepanjang malam.  Berapa banyak kebanggaan yang muncul pada diri kita?  Satu kali Sayyidina Musa (as), satu kali di dalam hidupnya muncul kebanggaan di dalam dirinya.  Bagaimana Allah menegurnya?  Allah ingin memperlihatkan kebanggaannya itu kepadanya.

Pagi harinya ia lewat di tepi pantai dan bertemu dengan seekor katak.  Dan katak itu berbicara dengannya.  Banyak sekali binatang, baik yang liar maupun binatang peliharaan yang berbicara dengan Nabi-Nabi.  Dan katak itu berkata, “Ya Musa, apakah engkau bangga dengan ibadahmu tadi malam?  Aku, sejak 400 tahun yang lalu  Allah menciptakan aku, dan kini sudah 400 tahun aku hidup, aku tidak pernah berhenti memuji, mengagungkan Allah (swt) sejak Dia menciptakan aku 400 tahun yang lalu.”

Fa qaala Musa (as), “Demi Dzat yang membuatmu berbicara denganku dalam bahasaku, aku bertanya apakah yang menjadi tasbihmu?” “Apa yang engkau ucapkan?”  Dan katak itu berkata, “Aku ucapkan, ‘Subhana man yusabbihu lahu man fil-bihar.’  Mahasuci Allah, mahasuci bagi-Nya, sebanyak orang-orang di samudra memuji-Nya.  Subhana man yusabbihu lahu man fil-ardh, Mahasuci Allah sebanyak orang-orang di bumi memuji-Nya.  Subhana man yusabbihu lahu man fil-uusir jibal, Mahasuci Allah sebanyak orang-orang di atas gunung memuji-Nya.  Subhana man yusabbihu lahu bi kulli syafatin wal-lisaan, Mahasuci Allah sebanyak orang-orang memuji-Nya dengan bibir dan lidah mereka.”

Semoga Allah (swt) membuat kita paling tidak bertasbih satu kali setiap hari.  Subbuuhun Qudduusun Rabbul-malaa’ikati war-ruuh.   Semoga Allah mengampuni kita.

Wa min Allah at Tawfiq

http://sufilive.com/Special_Tasbeeh-4877.html

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...